RABU, 19 OKTOBER 2016

SUMENEP --- Aksi gebrak meja terjadi saat aksi demonstrasi terkait regulasi Dana Bagi Hasil Minyak dan Gas (BPH Migas). Hal tersebut dikarenakan, mahasiswa yang merasa kecewa dengan jawaban pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Madura, Jawa Timur.


Kekecewaan mahasiswa merupakan lanjutan aksi unjukrasa yang digelar terkait buramnya Dana Bagi Hasil Minyak dan Gas (DBH Migas), setelah itu pengunjukrasa ditemui oleh pihak pemerintah di Aula Adirasa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat. Namun dalam pertemuan tersebut rupanya jawaban yang diberikan kepada mahasiswa tidak sesuai yang diharapkan, sehingga mereka merasa kecewa dan memilih meninggalkan tempat pertemuan.

“Sekda mengalihkan pembicaraan kita, teman-teman mahasiswa juga paham DBH bukan hanya di Migas. Tetapi kita mau mempertanyakan terhadap realisasinya di daerah ini, namun jawabannya menghindar dari itu,” kata Imam Arifin, salah seorang mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Melawan Korupsi (GERAMSI) Kabupaten Sumenep, Rabu (19/10/2016).

Disebutkan, pihak pemerintah daerah menemui para mahasiswa terkait persoalan peruntukan DBH Migas dinilai hanya asal-asalan, sehingga jawaban yang dijelaskan tidak sesuai dengan apa yang menjadi tuntutan mahasiswa. Akibatnya jawaban tersebut bukanlah penjelasan yang tepat, melainkan hanya akan memancing emosi para mahasiswa yang ada di ruangan tersebut.

“Kemungkinan Sekda menemui kita dengan asal-asalan dan memang mencoba memancing emosi teman-teman biar cepat bubar,” jelasnya.

Setelah menggebrak meja, mahasiswa yang emosinya sudah memuncak dengan jawaban Pemerintah Daerah yang ngambang berteriak sambil membeberkan data masalah Migas. Beruntung emosi para mahasiswa berhasil diredam oleh aparat kepolisian .

Sementara Ach. Fauzi, Wakil Bupati Kabupaten Sumenep mengaku, sebenarnya pihaknya telah mempersiapkan apa yang diinginkan oleh para mahasiswa, sehingga Sekretaris Daerah (Sekda) Hadi Soetarto ingin menjelaskan secara detail terkait DBH Migas tersebut. Namun sayang sebelum penjelasan detail selesai, para mahasiswa sudah terlanjur emosi.

“Jadi bukan tidak puas, tetapi mereka hanya salah tangkap. Kan Sekda masih membuka proses penjelasan agar detail dulu sebelum masuk pada pokok persoalan yang diinginkan,” terangnya.
Jurnalis : M. Fahrul / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : M.Fahrul

Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: