SENIN, 10 OKTOBER 2016

Mataram --- Keberadaan masyarakat penderita gangguan jiwa atau mental di tengah masyarakat seringkali masih dipandang sebelah serta mendapatkan perlakuan diskriminatif dari sebagian besar masyarakat.


"Keberadaan penderita gangguan jiwa di tengah masyarakat masih sangat memprihatinkan, selain mendapatkan perlakuan diskriminatif, tindakan pemasungan, pengasingan memenjarakan juga kerap dilakukan, terutama oleh keluarga sendiri" kata Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ), Mutiara Sukma Provinsi Nusa Tebggara Barat (NTB), Eli Rosila Wijaya di Mataram, Senin (11/10/2016).

Padahal, mereka juga manusia yang berhak mendapatkan penghidupan yang layak seperti masyarakat lain, sehingga membutuhkan perhatian melalui pengobatan dan pskiatri dari rumah sakit, supaya kondisinya bisa normal kembali.

Dikatakan, perlakukan diskriminatif dan stigma negatif terhadap penderita gangguan jiwa bahkan bentuknya tidak saja pemasungan dan pengasingan, tapi seringkali menjadi bahan ejekan, mulai dari kalangan anak - anak hingga orang dewasa.

"Mereka (penderita gangguan jiwa) juga manusia yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang, karena itulah, masyarakat hendaknya ketika ada anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa, bukan dipasung, diasingkan atau dipenjarakan, tapi diberikan pengobatan, supaya bisa hidup normal kembali seperti masyarakat lain" katanya.

Eli menambahkan, penyakit gangguan jiwa biasa terjadi dengan gejala awal seperti sering mengalami kecemasan, kondisi fisik, magh lambungn, sesak nafas, tapi setelah diperiksakan ke dokter justru tidak mengidap penyakit apapun. Kesibukan dan jam kerja yang tinggi juga bisa jadi penyebab.

Jurnalis : Turmuzi / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Turmuzi
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: