JUMAT, 7 OKTOBER 2016

SUMENEP --- Setelah beberapa hari terakhir hujan mengguyur wilayah Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, membuat para petani tembakau daerah setempat mulai merasa khawatir tanaman garapannya akan gagal panen. Mereka memilih tanaman tembakaunya di panen lebih awal meski daun emas tersebut belum waktunya panen. Mereka takut akan mengalami kerugian yang cukup besar jika dibiarkan dan kembali terkena hujan.


Kondisi kemarau yang terjadi pada musim tembakau kali ini menambah lengkap penderitaan petani tembakau di ujung timur Pulau Madura ini, karena petani sudah sekian lama tidak pernah menikmati hasil tanaman yang dikenal dengan ‘Daun Emas’ secara memuaskan. Selain harga yang selalu anjlok, musim tahun ini sepertinya mereka akan mengalami kerugian dengan kondisi cuaca yang kurang bersahabat.

“Jadi dengan sering adanya hujan di daerah ini membuat sebagian petani memilih panen tembakaunya lebih awal, karena jika kembali diguyur hujan, maka tanaman musiman tersebut akan gagal panen. Lebih baik kan di panen lebih awal, dari pada nanti tanaman yang kami garap mati akibat membusuk terkena hujan,” kata Surahmi, salah seorang petani di Desa Babbalan, Kecamatan Batuan, Kabupaten Sumenep, Jumat (7/10/2016).

Disebutkan, panen lebih tanaman tembakau yang mereka lakukan untuk mengantisipasi kerugian yang cukup besar, sebab tanaman musiman tersebut sangat rentan terhadap air hujan. Ketika tanaman yang mulai layu kembali diguyur hujan dengan intensitas tinggi, kemungkinan besar akan mati, sehingga petani akan gigit jari. Karena harapan untuk mendapatkan hasil yang menjanjikan akan hanya tinggal impian saja.

“Bercocok tanam tembakau ini membutuhkan biaya cukup besar, makanya ketika sudah diguyur hujan seperti ini kami memilih panen lebih awal. Sehingga meskipun rugi minimal modal yang digunakan bisa kembali, karena kami disini lahan sewa, bukan milik pribadi,” jelasnya.


Oleh karena itu, para petani hanya bisa berharap tembakau yang telah mereka panen nantinya bisa diminati para pembeli, meskipun harganya tidak setinggi harga tembakau yang dipanen pada umur normal. Agar modal yang selama ini telah ia keluarkan bisa kembali utuh. 
[M. Fahrul]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: