SENIN, 10 OKTOBER 2016

MAUMERE --- Masyarakat Nangahure kelurahan Wuring kecamatan Alok Barat selain menjadi nelayan, juga melakoni pekerjaan sebagai pembuat perahu tradisonal. Perahu yang dipergunakan pun rata-rata dibuat sendiri.


Perahu tradisional yang dibuat rata-rata berukuran panjang 6 meter dan lebar sekitar 1,5 meter. Namun panjang dan lebar perahu bisa disesuaikan dengan pesanan dari pembelinya yang juga datang dari beberapa wilayah lainnya di kabupaten Sikka.

“Membuat sebuah perahu butuh waktu lama kadang bisa sebulan sebab dikerjakan usai pulang melaut,” ujar Suratin.

Salah seorang pembuat perahu ini kepada Cendana News Senin (10/10/2016) di pantai Nangahure terlihat sibuk membuat sebuah perahu sepanjang 6 meter. Kalau sedang musim barat saat angin kencang dan gelombang tinggi dirinya tidak melaut sehingga mempunyai waktu luang lebih untuk membuat perahu.

“Satu perahu bisa dibuat paling cepat sebulan sudah selesai tergantung panjang perahunya. Saat ini semua alat seperti bor, sekap dan gergaji sudah memakai listrik sehingga pembuatannya lebih cepat,” tuturnya.

Mulyadi anak Suratin pun terlihat sibuk membuat sebuah perahu sepanjang 6 meter dan terlihat hampir selesai dikerjakan. Dirinya sudah mahir membuat perahu sendiri sebab sejak kecil selalu membantu ayahnya membuat perahu sepulang memancing.

 “Sudah satu bulan perahu ini kami kerjakan dan hanya tinggal dihaluskan serta di cat saja setelah itu dipasangi perlengkapannya,” sebutnya.

Mahalnya kayu membuatnya memakai kayu lokal kelas dua jenis Rau dimana perahu dengan kayu ini bisa bertahan 3 sampai 4 tahun. Banyak nelayan yang memakai kayu jenis ini selain memakai kayu ulin atau lainnya.

Mulyadi mengakui,saat ini hampir semua nelayan bisa membuat perahu sendiri.Hal ini terlihat di sepanjang pesisir pantai Nangahure dimana di bawah pohon Waru di dekat lapangan sepak bola terlihat 6 pembuat perahu sedang asyik bekerja. Banyak nelayan yang membuat perahu untuk kebutuhan sendiri atau dijual kepada saudaranya.

“Kalau perahu panjangnya 6 meter kami bisa jual 15 juta rupiah dan kami cuma dapat untung 5 juta rupiah saja. Mesinnya berukuran 24 PK yang dibeli sendiri oleh pemiliknya seharga 5 juta rupiah,” bebernya.

Mulyadi mengakui, semua perahu yang dimiliki nelayan Nangahure dibuat sendiri oleh nelayan. Perahu-perahu berwarna mencolok tersebut selalu dicat setahun sekali pada saat terjadi gelombang besar dan nelayan libur melaut.

Selain mengecat badan perahu, para nelayan juga menambal dinding perahu dan mengganti paku dari kayu agar perahu tidak cepat rusak. Nelayan juga memanfaatkan waktu tersebut untuk memperbaiki pukat mereka.

“Keahlian membuat perahu sama dengan pekerjaan sebagai nelayan yang kami pelajari secara otodidak dari orang tua dan sudah dilakoni secara turun temurun,” pungkas Mulyadi.


Disaksikan Cendana News, di pantai Nangahure terdapat sekitar 300 perahu nelayan tradisional dari yang berukuran panjang 4 meter,6 bahkan ada satu dua perahu panjangnya 8 meter. Perahu yang sedang diperbaiki ditarik ke darat sejauh 100 meter dari garis pantai di bawah pohon-pohon Waru yang tumbuh di sepanjang pantai ini.
[Ebed De Rosary]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: