SABTU, 1 OKTOBER 2016

MAUMERE --- Meningkatkan PDRB, pembukaan lapangan kerja serta pengembangan ekonomi berbasis kearifan lokal, pemerintah pusat melalui Badan Ekonomi kreatif (Bekraf) membentuk ekosistem desa kreatif.


Demikian disampaikan Deputi Bidang Infrastruktur Bekraf, Hari Santosa Sungkari saat Workshop Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif Tenun Ikat Sikka Tahun 2016 di Aula Hotel Sylvia Jl Gajah Mada Maumere, Jumat  (30/9/2016).

Dikatakan Hari, sebagai pilot project untuk pelaksanaan Program fasilitasi Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif dan secara khusus sebagai upaya Bekraf dalam mengenali pola masing-masing daerah dipilih 3 daerah, yakni; 6 desa di Maumere,  2 desa di Batang, dan  2 desa di Lombok Tengah. 

“Program di ketiga daerah tersebut telah berjalan dengan baik dan sangat berhasil sebagai langkah awal dalam pemetaan potensi yang ada dan kemudian dilakukan workshop secara bertahap” ujarnya.

Jelas Hari, Pelaksanaan program fasilitasi pembentukan ekosistem desa kreatif di Maumere, dilaksanakan selama 3 bulan yakni sejak bulan Juli 2016 sampai dengan September 2016 yang difokuskan pada pengembangan tenun ikat Sikka. 

Terkait dengan ini sambungnya, Bekraf bekerjasama dengan berbagai pihak melakukan workshop yang diikuti oleh 50 pengrajin atau penenun dari berbagai kelompok yang ada di Maumere. Tahapan-tahapan dalam program ini pertama-tama adalah peserta diajarkan bagaimana memanfaatkan pewarnaan alam, mulai mengenal warna dasar, komposisi dan padupadan warna, kemudian pengenalan trend tekstil, membuat pola atau desain dasar, serta praktek.

Desa kreatif berperan untuk mendukung ekosistem dalam pengembangan ekonomi kreatif. Untuk itu, pengembangan atau pembentukan ekosistem desa kreatif  yang digagas oleh Bekraf melalui Deputi Infrastruktur mengacu kepada 16 subsektor dan 5 Rantai Nilai Ekonomi Kreatif, serta 5 aktor yakni Akademisi, Bisnis, Komunitas, Pemerintah dan Media.

“Artinya program ini dilakukan secara bersama-sama dan sinergi oleh lintas pemangku kepentingan yang melibatkan pemerintah baik pusat maupun daerah, komunitas kreatif sebagai representasi masyarakat, akademisi dan para pelaku usaha” tandasnya.

Informasi yang didapat, bahwa karya budaya tenun yang sangat luar biasa ini akan dipamerkan di Jakarta pada bulan November 2016 nanti. Untuk daerah Batang yakni fokus pada Batik dan telah dilaksanakan sejak bulan Agustus 2016 dan akan ditutup pada bulan Oktober nanti. 

Hari mengatakan, Kemudian untuk daerah Lombok difokuskan pada pengembangan Tenun Songket dan sudah dimulai sejak bulan September dan akan ditutup pada bulan November 2016 nanti. Hasil karya dari para peserta dari dua daerah ini rencananya juga akan dipamerkan di Jakarta.

Bupati Sikka Yoseph Ansar Rera dalam sambutannya sebelum menutup kegiatan mengatakan bahwa saat ini baru 58 motif tenun ikat yang dilindungi dan masih banyak motif tenun ikat Sikka yang akan didata dan dilindungi. 

“Bermula dari pemahaman akan potensi yang ada di desa khususnya dari 16 subsektor tersebut kita akan angkat guna mengembangkan ekonomi daerah. Ekosistem  ini juga ditujukan agar subsektor yang dikembangkan ada multiplier effect sehingga mampu melahirkan banyak usaha rintisan dan startup dibidang ekonomi kreatif”  ungkapnya.

Pada kesempatan ini juga, Ansar Rera atas nama masyarakat dan pemerintah kabupaten Sikka menyampaikan apresiasi dan beberapa kali mengucapkan terima kasih kepada badan ekonomi kreatif, yang sudah menyediakan waktu dan mengajarkan proses tenun yang lebih modern dengan tetap mempertahan motif asli daerah. 

“Pengetahuan yang didapat supaya dilanjutkan untuk kegiatan produksi tenun selanjutnya. Saya juga menghimbau kepada warga penenun supaya menanam kembali kapas dan tanamanlain yang merupaka kebutuhan untuk menenun” demikian Ansar Rera.
(Ebed de Rosary)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: