KAMIS, 13 OKTOBER 2016

YOGYAKARTA --- Setelah bisa menemukan caranya sendiri untuk membuat batik bubur, Philip Boas kini mengembangkan tanaman indigo sebagai sumber pewarna alami batik. Dengan segala upayanya, Philip hanya ingin warga sekitar tempatnya tinggal bisa melestarikan batik bubur atau simbut setelah ia kembali ke negara asalnya di B
elanda.




Dalam setiap membuat batik simbut, Philip menggunakan bahan pewarna alami warna biru yang diperoleh dari daun pohon indigo, atau yang di Indonesia sering disebut nila, tom atau tarum. Pohon tersebut, menurut Philip, merupakan tanaman sejenis perdu dengan bentuk daun yang lebat dan bulat.

"Waktu pertama mencari pohon itu sekitar tahun 1997, sangat jarang orang yang tahu pohon itu. Tapi, dari seorang petani di desa Ngemplak, saya diberitahu kalau ternyata pohon itu banyak tumbuh di pinggir-pinggir jalan dusun tertentu", ujar Philip, Kamis (13/10/2016).


Setelah tahu pohon indigo yang selama ini dianggap tak berguna, saat itu pula Philip mencoba menanamnya sendiri. Lalu, saat ini ketika sudah mulai banyak orang di dunia batik tahu pohon indigo, ia menyemai bibit pohon indigo di studionya. Bibit pohon indigo, menurutnya, diperoleh dari biji buah indigo yang bentuknya seperti petai, namun ukurannya hanya sebesar pangkal lidi.

"Biji-biji itu dikeringkan, lalu disemai. Setelah dua bulan, baru bisa ditanam di ladang. Kemudian 3-4 bulan kemudian daunnya baru bisa dipanen untuk dijadikan bahan pewarna", jelasnya.


Daun pohon indigo, lanjut Philip, hanya bisa dipanen sebanyak 3-4 kali dalam satu musim selama 6 bulan. Setelah itu, daunnya tidak akan tumbuh lebat sehingga harus ganti pohon. Namun, Philip menyarankan agar pohon indigo yang sudah tak lebat daunnya untuk tidak dicabut. Namun, dibajak agar tenggelam ke tanah karena bisa menyuburkan tanah.

Philip mengatakan, untuk bisa mendapatkan bahan pewarna dalam bentuk pasta sebanyak kurang lebih 1,5 Kilogram, dibutuhkan daun indigo sebanyak 8 karung. Daun itu dicampur dengan air, pasta, gula dan kapur yang kemudian menjadi cairan pewarna. Namun jangan salah, kata Philip, cairan pewarna itu baru akan tampak biru ketika kain yang sudah dicelupkan ditiriskan atau diangin-anginkan.

"Setelah kain yang dicelup terkena oksigen, warna birunya baru muncul", ujarnya.

Sementara itu, lanjut Philip, proses pencelupan dilakukan berkali-kali hingga warna biru dirasa sudah maksimal. Sedangkan Philip sendiri mengaku biasa melakukan perendaman selama kurang lebih 1 jam lamanya.


Saat ini, Philip mempunyai satu orang asisten atau murid yang nanti diharapkan bisa meneruskan jerih payahnya selama ini, dan mengajarkannya kepada warga sekitar tempatnya selama ini tinggal di Dusun Dalem, Widodomartani, Ngemplak, Sleman. 

"Hanya itu harapan saya. Agar masyarakat bisa mengembangkan batik simbut dengan pewarna alami ini setelah saya pulang ke Belanda", pungkasnya. 

Jurnalis : Koko Triarko / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Koko Triarko
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: