JUM'AT, 7 OKTOBER 2016

YOGYAKARTA --- Dewan Harian Daerah 45 DI Yogyakarta, menggelar upacara bendera di Komplek Asrama Prajurit TNI AD Komando Resimen Militer 072 Pamungkas Yogyakarta, Jumat (7/10/2016). Upacara tersebut digelar guna memperingati Pertempuran Kotabaru mengusir Jepang pasca proklamsi kemerdekaan RI. 


Tidak banyak generasi sekarang yang masih mengingat peristiwa bersejarah yang terjadi di Kotabaru, Kota Yogyakarta, pada 7 Oktober 1945, silam. Saat itu, sesudah diproklamasikannya Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, Jepang masih belum bersedia melepaskan daerah kekuasaannya di Kota Yogyakarta.

Karenanya, para pemuda di Yogyakarta menggalang kekuatan, guna mengusir Jepang dari kedudukannya di Yogyakarta, yang saat itu berkantor di sebuah gedung yang saat ini menjadi Asrama Prajurit TNI AD Korem 072/PMK Yogyakarta.



Sekretaris Umum DHD 45 Yogyakarta yang merupakan pengurus cabang Badan Penerus Pembudayaan Kejuangan 45 Jakarta, Haryadi, ditemui usai mengikuti upacara bendera mengatakan, upacara bendera merupakan peringatan terjadinya pertempuran dahsyat para pemuda yang dibantu oleh Tentara Kemanan Rakyat, Pembela Tanah Air (PETA) dan Badan Keamanan Rakyat, saat mengusir Jepang yang masih saja tak mau hengkang dari bumi pertiwi.

Melihat Jepang yang belum juga mau hengkang, para pemuda didukung tokoh-tokoh TKR, PETA, dan BKR serta pejuang lainnya bermusyawarah. Lalu pada 6 Oktober 1945, sejumlah pemuda mendatangi penguasa Jepang di Yogyakarta pada waktu itu, dan memintanya untuk segera angkat kaki. Namun, Jepang ternyata menolak, sehingga para pemuda segera menyusun sebuah penyerbuan.


Soeharto yang pada saat itu masih berpangkat Letnan Kolonel, kata Haryadi, segera memimpin pasukan guna merebut tangsi militer Jepang di Yogyakarta yang merupakan gudang persenjataan. Serangan itu berhasil merampas persenjataan Jepang dan diberikan kepada para pemuda dan TKR.
Setelah itu, lanjut Haryadi, upaya penyerangan disusun dengan matang. Jalur komunikasi dan listrik bagi Jepang diputus, agar ketika diserbu Jepang tidak bisa meminta bantuan dari luar. 

Haryadi mengatakan, pasukan sudah bersiap sejak pukul 04.00 WIB subuh hari, menunggu ledakan granat yang merupakan tanda telah diputusnya jalur komunikasi Jepang. Saat itu, 7 Oktober 1945, sekitar pukul 06.00 WIB, granat meledak dan pecahlah pertempuran besar itu hingga sekitar pukul 10.00 WIB.

"Jepang akhirnya menyerah kalah dan ditawan di sebuah gedung yang sekarang menjadi Lembaga Pemasyarakatan Wirogunan Yogyakarta", jelas Haryadi.


Dalam pertempuran Kotabaru itu, sebanyak 21 pejuang RI gugur dan 32 lainnya terluka. Guna mengenang jasa para pejuang itu, lalu didirikan sebuah prasasti yang bertuliskan nama-nama pejuang yang gugur. Sementara itu, para penerus semangat juang 45 setiap tahun menggelar peringatan pertempuran Kotabaru dengan menggelar upacara bendera.


"Peringatan yang setiap tahun dilakukan ini sebagai upaya agar generasi muda tidak melupakan leluhurnya, dan yang lebih penting lagi adalah melestarikan, membudayakan semangat juang yang iklas bagi para pemuda untuk membangun bangsa dan negara", pungkas Haryadi.

Jurnalis : Koko Triarko / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Koko Triarko
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: