SABTU, 1 OKTOBER 2016

YOGYAKARTA --- Memperingati Hari Kesaktian Pancasila, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta menggelar seminar bedah buku berjudul 'Batik Anti Terorisme' di Ruang Seminar Harun Hadiwijono, kampus setempat, Sabtu (1/10/2016). Batik diangkat sebagai tema karena makna filosofinya yang sejalan dengan upaya kontra radikalisme melalui pendidikan dan kebudayaan.

Seminar Batik Anti Terorisme
Batik sebagai warisan budaya asli Nusantara bukan sekedar motif busana atau kain yang tanpa makna. Sebaliknya, batik dengan beragam motif dan perkembangannya, merupakan representasi dari nilai-nilai kearifan lokal, yang selama ini menjadi falsafah hidup masyarakat Indonesia yang harmonis, damai dan saling menghargai.

Seminar dengan acara tunggal bedah buku berjudul Batik Anti Terorisme diangkat sebagai media komunikasi kontra radikalisme. Hadir sebagai pembicara seminar, Ketua Program Doktor dan Master Komunikasi Pembangunan Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada, Prof. Dr. Ir. Sunarru Samsi Hariadi, M.Sc., Direktur Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Noorhaidi Hasan, MA., dan penulis buku Batik Anti Terorisme, Aniek Handajani, S.Pd., M.Ed.

Seminar dibuka oleh Asisten Keistimewaan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, Didik Purwadi, mewakili Gubernur Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang dalam sambutannya menegaskan, jika selama ini Yogyakarta bersikap tegas terhadap kasus-kasus intoleransi dengan penegakkan hukum ketika upaya dialog tidak bisa dilakukan. 

Dikatakan Didik, kasus radikalisme di Indonesia sepanjang tahun 2015 ada sebanyak 197 peristiwa dan 236 kasus pelanggaran kebebasan beribadah dan beragama. Jumlah tersebut meningkat dari tahun sebelumnya. Karena itu, katanya, upaya kontra radikalisme harus selalu dilakukan melibatkan masyarakat dan keluarga.

Peragaan membatik dipamerkan
"Terorisme bukan hanya soal agama. Namun, banyak faktor dan tidak muncul dari ruang hampa, melainkan terjadi karena sebab-sebab yang sangat komplek. Secara umum, terorisme terjadi karena faktor ketidak-adilan di dunia baik sosial, ekonomi, politik dan budaya" jelas Didik.

Sementara itu, Rektor UKDW Yogyakarta, Henry Feriadi, mengatakan, seminar tersebut digelar untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila dengan seminar yang sengaja memilih tema upaya kontra radikalisme yang bisa mengancam tegaknya Pancasila. Bedah buku Batik Anti Terorisme dipilih sebagai upaya mengatasi radikalisme melalui penguatan budaya.

"Batik sebagai warisan budaya bangsa yang telah diakui dunia bisa digunakan sebagai media menumbuhkan rasa cinta terhadap sesama, budaya dan rasa cinta damai, dengan menggali nilai-nilai filosofi batik yang mengandung kearifan lokal" ujarnya.

Seminar Bedah Buku Batik Anti Terorisme dalam peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Kampus UKDW, juga disertai peragaan membatik oleh sejumlah pecinta batik di Yogyakarta dan pameran batik. Sementara itu, ketiga narasumber seminar secara bergantian mengkaji nilai-nilai kearifan lokal Nusantara sebagai penguatan identitas dan falsafah hidup harmonis dalam keberagaman. 
(koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: