SENIN, 31 OKTOBER 2016

JAKARTA --- Proses pembebasan sandera empat orang Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) yang disandera selama 4,5 tahun oleh kelompok perompak bersenjata di perairan Negara Somalia, Benua Afrika, terhitung sejak tanggal 26 Mei 2012 tersebut ternyata tidak semudah apa yang dibayangkan.


Berbagai rintangan dan hambatan harus dilalui oleh tim pencari dari perwakilan Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia dan Badan Intelejen Negara (BIN) untuk menemukan sekaligus membebaskan para sandera ABK WNI dari tangan kelompok bersenjata di Somalia. Namun akhirnya mereka mampu mengatasi semua rintangan dan hambatan yang sempat menyulitkan dalam pencarian dan pembebasan para sandera di Negara Somalia tersebut.

Tak lama setelah terdengar kabar berita pengumuman penyanderaan lima ABK asal Indonesia pada tanggal 26 Mei 2012 [satu WNI meninggal dunia pada Mei 2014 karena sakit malaria], pihak Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) dan Badan Intelejen Negara (BIN) langsung bekerjasama dan berkoordinasi untuk mencari tahu dimana posisi sandera dan bagaimana cara yang paling efektif untuk membebaskannya.

Namun ternyata tidak mudah, berbagai kendala dan rintangan harus dihadapi, salah satunya adalah tidak berfungsinya Pemerintah di Negara Somalia yang hingga saat ini memang sedang dilanda kekacauan akibat kekosongan kekuasaan. Kendala lainnya adalah Pemerintah Indonesia selama ini sama sekali memang belum pernah mempunyai Kantor Kedutaan Besar Besar maupun perwakilan Konsulat di Negara Somalia tersebut.

Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Lestari Priansari Marsudi
Kesulitan yang dihadapi berikutnya adalah minimnya informasi terkait dengan posisi keberadaan para sandera yang selalu berpindah-pindah lokasi, sehingga semakin menyulitkan tim pencari untuk mencari keberadaan para sandera ABK WNI tersebut. Kendala lain yang dihadapi adalah minimnya kendaraan atau transportasi dan medan yang berat menuju lokasi tempat dimana para sandera tersebut ditawan.

"Proses pembebasan sandera ABK WNI di Negara Somalia memerlukan waktu cukup lama, banyak kendala dan rintangan yang harus dihadapi oleh tim pencari gabungan dari Kemenlu dan BIN, bahkan pada saat sandera sudah dibebaskan dari tangan perompak, sempat ada upaya dari kelompok lain mencoba merebut kembali empat ABK WNI yang sudah kita amankan, namun akhirnya semuanya berjalan lancar dan selamat tiba kembali ke tanah air dalam keadaan sehat wal afiat," kata Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi, Senin sore (31/10/2016).
Jurnalis : Eko Sulestyono / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Eko Sulestyono
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: