SELASA, 18 OKTOBER 2016

MBAY --- Pemerintah akan tetap melaksanakan pembangunan Waduk Lambo di Nagekeo meski ada penolakan dari masyarakat. Pembangunan waduk tetap akan dilaksanakan dan survei akan dimulai Selasa (18/10/2016).


Demikian disampaikan wakil bupati Nagekeo, Yohanes Paul Nuwa Veto di lokasi pembangunan waduk di depan masyarakat yang menghadang rombongan pejabat pemerintah, Senin (17/10/2016) sore.

“Kedatangan pada sore hari ini untuk menyampaikan bahwaa kegiatan survei pembangunan waduk akan segera dilakukan dan jadwalnya dimulai sejak Senin (17/10/2016) namun karena sudah sore maka akan dilanjjutkan Selasa (18/10/2016),” ujar  Nuwa Veto.


Jika ada yang merasa keberatan,ada protes lanjutnya,silahkan datang ke pemerintah daerah Nagekeo. Silahkan semua keberatan disampaikan ke Pemda Nagekeo jangan menganggu kerja tim survei.

“Semua aspirasi baik lisan maupun tertulis disampaikan kepada kami tapi jangan ganggu kerja tim survei,” tegasnya.


Nuwa Veto menambahkan kedatangannya bersama Kapolres Ngada,Kejari Bajawa, wakil ketua DPRD Nagekeo, Kasdim 1625 Ngada serta rohaniawan ingin menyampaikan bahwa survei akan dilaksanakan jadi mohon jangan ganggu. 

Usai wakil bupati bicara warga berteriak,”Sekali tolak tetap tolak” dan wakil bupati katakan, baik,itu pernyataannya, Saya ingin dengar sekali lagi. Warga yang mayoritas perempuan itu pun kembali berteriak lantang “Sekali tolak tetap tolak”.

Leonardus Suru,ketua suku (Mosalaki) Gaja mengatakan, kegiatan seperti ini sudah yang kesekian kalinya dilaksanakan, kembali bertemu dan sudah banyak kali masyarakat didatangi. Komitmen masyarakat bapak wakil bupati bisa saksikan sendiri.


Sebagai ketua Suku Gaja dirinya tegaskan,walau dipaksakan kami hari ini akan membuat sumpah adat Boli yang artinya melarang melakukan semua aktifitas lain yang tidak sesuai dengan kemauan masyarakat.

“Kami sangat berterima aksih atas penyampainnya,dengan demikian sudah sangat jelas sikap pemerintah daerah Nagekeo. Ini bukti ketidakberpihakan kepada masyarakat,” sebutnya.

Keberatan masyarakat  tandas Leonardus, tidak dipedulikan dan bila ada benturan di lokasi pemerintah harus bertanggung jawab juga. Pemerintah wajib melindungi segenap warga masyarakat tapi ini pemerintah Nagekeo sudah mengambil keputusan sepihak.

“Bapak sudah mendengar sendiri pernyataan masyarakat bahwa sekali tolak tetap tolak, itu merupakan keberatan masyarakat. Pernyataan seperti apa lagi yang diinginkan,” tegasnya.

Wakil bupati langsung menyatakan,baik,sumpah adat itu dibuat oleh bapak-bapak mereka untuk bapak-bapak mereka tapi demi kepentingan masyarakat pembangunan tetap dilaksanakan, sumpah adat silahkan dilaksanakan.

“Bapak ibu menolak itu sikap bapak ibu sikap pemerintah kami tetap laksanakan survei, kami tidak lagi meminta alasan masyarakat jangan menganggu kerja tim survei. Tidak soal bapak ibu menolak yang penting kami sudah berbicara, kami sudah menyampaikan sikap,” punkas Nuwa Veto.

Disaksikan Cendana News, sejak pagi warga masyarakat sudah berkumpul di sekitar lokasi pembangunan waduk setelah mengetahui ada tim survei yang akan turun ke lokasi. Warga membawa kertas karton bertuliskan penyataan penolakan.

Saay warga hendak membuat ritual adat, wakil bupati dan rombongan bergegas meninggalkan lokasi dan saat bersamaan warga berteriak dan ritaul adat dilaksanakan.Ketua suku menyembelih seekor babi dan darahnya diolekan di tanah depan pintu masuk lokasi.

Jurnalis : Ebed De Rosary / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Ebed De Rosary
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: