SABTU, 1 OKTOBER 2016

PONOROGO --- Salah satu rangkaian acara Grebeg Suro yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo yakni kirab pusaka. Meski Ponorogo sempat diguyur hujan disertai angin ditengah kirab ternyata tidak menyurutkan semangat masyarakat untuk berkumpul di sepanjang jalan yang dilalui pawai dan kirab.


Terlihat ribuan masyarakat yang berjejer rapi dari Jalan Batoro Katong sampai ke Paseban Alun-Alun. Selain ada kirab pusaka juga terdapat puluhan grup drum band dari berbagai tingkatan sekolah.

Kirab Pusaka sendiri merupakan napak tilas sejarah Kota Lama, Sarpon, Kecamatan Jenangan ke Kota Baru, Kecamatan Ponorogo. Dimana tiga pusaka milik Kabupaten Ponorogo yaitu tombak Songsong tunggul ulung, tombak tunggul nogo dan Dalah Cinde Puspito, diarak dari Kota Lama ke Kota Baru.

Ketiga pusaka tersebut diiringi oleh Bupati, Abdi Dalam baik dari Kota Lama maupun Kota Baru. Serta Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Camat se-Ponorogo.

Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni menjelaskan, acara ini merupakan bagian dari sejarah kota Ponorogo. "Kirab Pusaka merupakan bagian dari cerita sejarah Ponorogo. Dari Kota Lama ke Kota Baru," jelasnya saat berada di Paseban, Sabtu (1/10/2016).

Ipong berharap masyarakat tidak melupakan sejarah kota lama Ponorogo di Sarpon. Selain itu dengan adanya kirab pusaka diharapkan bisa mendapatkan berkah dari Tuhan.

"Gol nya tentu bisa menjadi agenda tahunan. Kebudayaan di Ponorogo menjadi daya tarik sendiri," cakapnya.

Selain kirab pusaka yang menjadi daya tarik masyarakat adanya air bekas jamasan. Budaya tentang mandi air bekas jamasan atau bekas cuci benda pusaka masih kental. Dari tahun ke tahun, dipastikan warga langsung menyerbu air jamasan setelah selesai pencucian benda pusaka karena dianggap bisa membuat awet muda, keselamatan dan meraih cita-cita.

Pasca Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, meninggalkan tempat pencucian jamas, warga Ponorogo langsung menyerbu. Mereka berebut air untuk digunakan wudhu atau mandi.

"Saya memang sengaja datang ke kota untuk bisa mandi dengan air jamas. Karena ada kepercayaan tersendiri," kata Triyas, salah satu warga dari Jambon.

Triyas mengatakan, kepercayaan masih sangat kental. "Saya mandi dengan air jamas biar awet muda. Tetap disayang sama suami. Makanya nekat ke Ponorogo," pungkasnya. 
[Charolin Pebrianti]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: