SELASA, 18 OKTOBER 2016

JAKARTA --- Pemuda dan pemudi Indonesia adalah generasi penerus pembawa amanat para pendahulunya untuk meneruskan perjuangan bangsa. Namun di sisi lain juga harus lebih dulu tertanam rasa cinta serta rasa memiliki akan bangsa ini sehingga nantinya perjuangan yang dilakukan dapat membuahkan hasil maksimal dikemudian hari karena didasari perjuangan yang tulus dari hati terdalam.

Kiri : Monumen Persatuan Pemuda 1928 yang diresmikan Menpora Hayono Isman 23 Oktober 1994. Kanan : Diorama Kongres Pemuda II
Presiden kedua RI, HM.Soeharto memahami akan hal tersebut sehingga beliau merasa perlu untuk terus menanamkan kepada generasi muda penerus bangsa akan semangat perjuangan luhur kaum muda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itulah beliau meresmikan Museum Sumpah Pemuda pada tanggal 20 Mei 1974.

Sebelum diresmikan Presiden Soeharto pada tahun 1974 maka Museum Sumpah Pemuda yang berkedudukan di Jalan Kramat Raya 106 dan merupakan gedung ex-Indonesisch club-Gebouw terlebih dahulu mengalami pemugaran mulai 5 April 1973 hingga 20 Mei 1973 di era pemerintahan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin.

Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta pusat ini dulunya adalah pondokan tempat berkumpulnya mahasiswa. Di museum ini juga diperlihatkan bagaimana foto jalan kramat raya tempo dulu yang khas dengan trem, rumah penduduk dipinggir jalan yang lengang serta teduh dengan keramaian layaknya kota london tempo dulu. Akan menarik jika nanti dibandingkan dengan keadaan jalan kramat raya jaman sekarang khususnya tahun 2016.

Museum ini menyimpan perjalanan sejarah pergerakan kaum muda indonesia yang terdiri dari kumpulan-kumpulan etnis namun bersatu padu dalam satu penderitaan demi satu tujuan mulia yakni berjuang untuk meraih sekaligus mempertahankan kemerdekaan sebagai suatu bangsa.

Dari pondokan mahasiswa ini lahir banyak nama pemuda yang akhirnya menjadi tokoh-tokoh sentral perjuangan bangsa dan pahlawan nasional, seperti : M.Tabrani, Mochammad Jamin, Soegondo Djojopoespito, R.Kaca Sungkana, M.Rochjani Soe'oed, Johannes Leimena, Wage Rudolf Supratman, MR.Sartono, Mohammad Hatta, Sutan Muhammad Amin Nasution, Dr.Moewardi, dan Prof. MR. Soenaryo. Tokoh-tokoh ini selain dapat dibaca peran maupun otobiografinya secara digital oleh pengunjung museum Sumpah Pemuda juga diabadikan dalam bentuk patung diri di setiap sudut museum.

Kiri : Diorama pertama kali dimainkan lagu kebangsaan Indonesia Raya ciptaan WR.Supratman dengan biola. Kanan : Biola asli yang masih disimpan Museum Sumpah Pemuda hingga kini

Sebenarnya ada satu tokoh lagi yang lahir dari kumpulan pondokan Jalan kramat raya 106 yaitu Amir Sjarifoeddin, namun karena menjadi pengkhianat bangsa sekaligus salah satu otak pemberontakan Komunis di era pemerintahan Presiden Soekarno maka ia dihukum mati oleh negara sehingga namanya tidak ditemui didalam museum ini.

Bagian-bagian dalam museum Sumpah Pemuda sangat menariuk dan sudah masuk era museum digital karena setiap pengunjung dapat mengakses sejarah gerakan pemuda Indonesia melalui data komputer yang sudah disiapkan pengelola di setiap ruangan.

Tiga ruangan yang banyak diabadikan pengunjung museum adalah :

1. Ruangan sejarah Kongres Pemuda II yang akhirnya melahirkan Sumpah Pemuda 1928 dengan tiga ikrar kuat, bahwa :

Kami poetera dan poeteri Indonesia, Mengakoe bertoempah darah jang satoe, Tanah Indonesia
Kami poetera dan poeteri Indonesia, Mengakoe berbangsa jang satoe, Bangsa Indonesia
Kami poetera dan poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng bahasa persatoean, Bahasa Indonesia

Diruangan ini pula diletakkan diorama kala dimainkan untuk pertama kali lagu kebangsaan " Indonesia Raya" ciptaan salah satu tokoh pemusik muda sekaligus seorang tenaga guru bantu di Jakarta yakni WR.Supratman menggunakan biola.

2. Ruangan Kepanduan atau dikenal sekarang dengan Pramuka.

3. Ruangan sejarah gerakan pemuda sejak Kongres Pemuda I hingga Kongres Pemuda II serta lahirnya berbagai organisasi kepemudaan tanah air yang mempengaruhi perjuangan kemerdekaan sekaligus mempertahankan kemerdekaan. Diruangan ini turut pula diletakkan diorama suasana Kongres Pemuda II berikut monumen raksasa dari dokumen undangan resmi kongres tersebut.

Ruang Kepanduan (Pramuka) di Museum Sumpah Pemuda
Staff museum Sumpah Pemuda Jakarta, Bakhti Ari Budiansyah menjelaskan pula bahwa Museum Sumpah Pemuda di era modern sebagai museum digital banyak membantu pengunjung untuk bukan saja melihat benda-benda antik peninggalan sejarah, membaca ulasan sejarah, namun juga langsung mengakses datanya sekaligus di komputer yang ada di setiap ruangan museum.

" Akan tetapi koleksi yang menarik itu juga sangat penting, seperti radio tua koleksi kami yang digunakan oleh para pemuda di ruangan ini zaman dahulu dan tentunya koleksi andalan kami berupa biola milik WR. Supratman saat memainkan lagu Indonesia raya untuk pertama kali di gedung ini," Bakhti melanjutkan keterangannya.

Dalam rangka menyambut hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober setiap tahunnya maka setiap tahunnya Museum Sumpah Pemuda mengangkat profil salah satu pemuda inspiratif. Untuk tahun 2016 maka pilihan jatuh kepada profil Dr.Moewardi seorang dokter yang juga tokoh nasionalis bangsa indonesia.

Kiri : Jalan kramat raya sekitar Museum Sumpah Pemuda pada tahun 1920. Kanan : Jalan Kramat raya sekitar Museum Sumpah Pemuda tahun 2016

" Selain itu, makna sebuah museum bukan hanya sebatas koleksi atau acara yang diangkat saja melainkan lebih luas dan lebih dalam dari itu yakni bagaimana pesan perjuangan dari para pendahulu yang diabadikan didalam museum dapat melekat kepada generasi saat ini agar mereka bisa mengaplikasikan semangat itu dalam tindakan sehari-hari yang positif dan berguna bagi diri sendiri dan orang lain di sekitarnya," pungkas Bakhti kepada Cendana News.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw

Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: