MINGGU, 2 OKTOBER 2016

LAMPUNG --- Petani di Lampung mulai memasuki masa panen padi pada akhir bulan September hingga awal bulan Oktober tahun ini. Meski sudah memasuki masa panen namun dengan kondisi cuaca buruk salah satunya angin kencang dan hujan deras yang kerap terjadi membuat petani mengalami kesulitan dalam penanganan padi pasca panen. 


Salah satu wilayah yang mengalami kesulitan dalam melakukan proses pasca panen diantaranya berada di Desa Klaten Kecamatan Penengahan. Para petani mengaku mengalami kesulitan untuk melakukan aktifitas penjemuran gabah hasil panen akibat curah hujan turun secara tidak menentu dari pagi hingga sore hari.

Salah satu petani, Komariah (34) mengaku sudah melakukan panen gabah sejak lima hari lalu namun belum bisa dijemur secara menyeluruh akibat hujan berkali kali turun sepekan terakhir ini. Akibatnya sebanyak 10 kuintal gabah miliknya terpaksa dihamparkan di teras rumahnya serta di sejumlah karung dengan ditutupi terpal. Gabah gabah yang diletakkan dalam karung tersebut rencananya akan dijemur saat kondisi cuaca panas terik.

"Sekarang cuaca berubah sewaktu waktu bahkan cenderung banyak cuaca buruk dengan hujan dan disertai angin kencang yang berakibat kami tidak bisa menjemur gabah untuk disimpan di lumbung,"terang Komariah kepada Cendana News di rumahnya, Minggu (2/10/2016).

Komariah mengungkapkan, penumpukan gabah dengan ditutupi terpal dan karung dilakukan untuk memudahkan mengangkat gabah saat panas dan memindahkannya saat akan turun hujan. Padahal ia mengaku di musim panen sebelumnya dalam dua hari gabah yang dimilikinya sudah bisa kering selanjutnya disimpan di gudang penyimpanan dan lumbung yang bisa diambil sewaktu waktu saat membutuhkan. Namun pada masa panen bulan ini ia mengaku membutuhkan waktu lama untuk melakukan proses pengeringan dan sebagian gabahnya sempat berjamur dan tumbuh akar akibat terlalu lama di dalam terpal dalam kondisi basah.

Ia mengaku gabah yang tidak segera dijemur mengakibatkan kualitas gabah dan beras menjadi jelek diantaranya berwarna hitam dan mudah hancur saat digiling. Ia memiliki kebiasaan menyimpan berkarung karung gabah hasil panen sebagian di lumbung setelah sebagian dijual untuk menutup biaya operasional selama melakukan penanaman padi. Namun kendala cuaca membuat dirinya kesulitan menjemur padi yang dimilikinya akibat cuaca masih sering hujan setiap hari.

Selain Komariah, petani lain di Kecamatan Sragi juga mengalami kesulitan menjemur gabah akibat kondisi cuaca dominan turun hujan dibandingkan panas. Ia bahkan mengaku terpaksa menjual sebagian gabah miliknya yang belum kering untuk mengurangi kerugian akibat gabah yang belum kering.

Terkait kondisi tersebut, salah satu penyuluh pertanian dari Balai Pertanian Kecamatan Penengahan, Sayarifudin mengakui, beberapa persoalan yang ditemukan petani terkait pengeringan antarana lain kurangnya fasilitas pengeringan yang dimiliki petani. Fasilitas tersebut diantaranya lantai jemur dan terpal saat panen, penundaan pengeringan di lapangan setelah panen dan ketergantungan akan cuaca.

Ia mengungkapkan beberapa tekhnik pengeringan yang bisa dilakukan diantaranya pengeringan dengan tekhnologi diantaranya flad bed dryer (mesin pengering bak datar) hingga tekhnologi pengeringan re-circulating batch dryer (mesin pengering tipe sirkulasi), mesin contuniuous flow dryer (mesin pengering tipe mengalir) serta in-store drying (pengering terintegrasi dalam sistem penyimpanan).

"Tekhnik penggunaan alat ini memang masih mahal karenanya hanya beberapa tempat penggilingan padi skala besar yang memilikinya dan petani petani kecil lebih memilih melakukan pengeringan dengan penjemuran mengandalkan matahari,"ungkap Syarifudin.

Ia mengakui pengeringan metode tekhnologi saat ini belum diterapkan dan masih menjadi harapan bagi petani petani di wilayah pedesaan. Ia berharap perhatian terhadap kondisi tersebut bisa dilakukan dengan sistem kelompok tani yang memiliki lokasi khusus penjemuran berikut gudang bersama. Sebab dengan cara tersebut petani bisa melakukan efesiensi waktu penjemuran dan pengeringan padi dengan kualitas padi yang bagus.


Sebagai peyuluh ia mengakui, pengeringan dengan sinar matahari merupakan cara yang paling sederhana dan murah sehingga tekhnik inilah yang paling banyak diterapkan petani.  Selain itu lokasi lahan yang luas di halaman rumah warga masih memungkinkan pengeringan menggunakan terpal bisa dilakukan meski dalam kondisi musim hujan kendala proses pengeringan menjadi terhambat. Ia pun berharap musim hujan yang akhir akhir ini melanda Lampung bisa sedikit terhenti dan petani bisa melakukan proses pengeringan gabah.
[Henk Widi]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: