RABU, 19 OKTOBER 2016

JAKARTA --- Mantan Bendahara Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin saat diperiksa di Gedung KPK Jakarta sempat menyebutkan bahwa aliran dana hasil "penggelembungan" anggaran proyek pengadaan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Elektronik atau E KTP tersebut ternyata belakangan diketahui banyak mengalir ke kantong-kantong pribadi pejabat negara.


Demikian pernyataan M. Nazaruddin saat ditanya wartawan terkait dengan kemana sebenarnya aliran dana proyek pengadaan E KTP yang menurut perhitungan KPK telah merugikan negara sebesar 2 triliun tersebut. M. Nazaruddin bahkan juga menyebutkan bahwa kasus Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) E KTP  tersebut dalam waktu dekat akan diusut tuntas oleh KPK hingga sampai ke akar-akarnya.

Sementara itu, proyek pengadaan E KTP Nasional tersebut menurut perhitungan KPK telah merugikan negara sekitar 2 triliun Rupiah, penyidik KPK menyebutkan bahwa total anggaran proyek E KTP hanya sekitar 4 triliun Rupiah, namun ternyata anggarannya "membengkak" mejadi 6 triliun Rupiah. Menurut pemyelidikan KPK, negara dalam hal ini dirugikan sekitar 2 miliar Rupiah akibat penggelembungan anggaran tersebut.

"Pokoknya aliran dana haram korupsi proyek pengadaan E KTP Nasional tersebut diduga banyak dinikmati oleh pejabat negara dan Partai Politik (Parpol) namun saya tidak mau mengungkapkan siapa-siapa saja pejabat negara yang menerima uang tersebut, cukup penyidik KPK saja yang tahu, saya sudah menceritakan semuanya kepada penyidik KPK, biarlah KPK nantinya yang akan mengusut tuntas masalah tersebut" kata M. Nazaruddin di Gedung KPK Jakarta, Rabu (19/10/2016).

Sementara itu, penyidik KPK sebelumnya telah menetapkan dua orang tersangka dalam kasus Tipikor E KTP tersebut, yaitu masing-masing adalah Irman, mantan Jenderal (Dirjen) Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Sugiharto, mantan Direktur Pengelola Informasi dan Adminsitrasi Kependudukan Dirjen Dukcapil Kemendagri.
Jurnalis : Eko Sulestyono / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Eko Sulestyono

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: