SENIN, 10 OKTOBER 2016

MAUMERE --- Nelayan Nangahure kelurahan Wuring kecamatan Alok Barat, meminta pemerintah kabupaten Sikka agar membangun kolam labuh di pantai Nangahure. Pembangunan kolam labuh mendesak dilakukan agar perahu nelayan bisa terhindar dari gelombang dan angin kencang ketika musim barat melanda.


Hal tersebut disampaikan Haji Mahmud, seorang nelayan yang ditemui Cendana News  di areal pantai Nangahure, Senin (10/10//2016) saat sedang mengecat perahunya.

Dikatakan Mahmud, jika musim barat dan angin kencang, perahu yang ditambatkan di sepanjang pantai tersebut terkena hantaman gelombang dan angin membuat  banyak perahu yang mengalami kerusakan.

 “Jembatannya sudah diperpanjang di bagian timur tapi kolam belum dibangun juga. Kalau musim barat dan angin kencang, perahu terpaksa ditambatkan di pantai desa Kolisia yang berjarak beberapa kilometer ke arah barat,“ ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Sunardin nelayan lainnya yang ditemui sedang memperbaiki perahunya. Dikatakan Sunardin, tahun 1998 sebelum reformasi, sudah disusun batu dan akan dibangun pelabuhan serta kolam labuh namun terhenti akibat krisis ekonomi.

“Batu sudah disusun tetapi terhenti dan tidak dilanjutkan karena kekacaaun dan krisis ekonomi. Sampai sekarang tidak ada kejelasan lagi kapan akan dibangun,” sebutnya.

Ditambahkan Mahmud, selain dibangun tanggul yang berfungsi  juga sebagai pelabuhan, kolam labuh sangat dibutuhkan sehingga ketika musim barat perahu nelayan bisa berlindung. Empat buah kapalnya pernah mengalami kerusakan dan tidak bisa dipergunakan lagi.

Jumlah tersebut tutur nelayan sukses ini belum termasuk perahu motor dari nelayan asal Nangahure lainnya meyebutkan, hampir semua nelayan disini yang berjumlah 100 orang lebih, pernah mengalami nasib yang sama.

“Para nelayan disini selalu menginginkan segera dibangun dan sering diusulkan namun belum ada tanggapan. Kami sudah merasa capek juga mengusulkan ke pemerintah,” sesal Mahmud.


Disaksikan Cendana News di pantai Nangahure perahu-perahu nelayan tradisional banyak yang berlabuh di pesisir pantai usai melaut malam harinya. Di bagian timur terdapat pelabuhan yang disusun dari bebatuan sejauh 200 meter menjorok ke laut.

Sementara itu 300 meter di bagian timur sejauh  juga terdapat tumpukan batu sejauh  100 meter ke laut dan di tengah kedua susunan batu tersebut juga ditumpuk bebatuan oleh nelayan sebagai pemecah-pemecah gelombang guna melindungi perahu mereka.
[Ebed De Rosary]

Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: