KAMIS, 6 OKTOBER 2016

BALIKPAPAN --- Kondisi perekonomian daerah yang belum pulih dan turunnya daya beli masyarakat turut mempengaruhi okupansi atau tingkat isian kamar hotel di Kota Balikpapan. Ketua BPC Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan, Yulidar Gani menjelaskan, rata-rata okupansi hotel kini hanya mencapai 50-60 persen. Padahal tahun sebelumnya bisa mencapai 70 persen, bahkan lebih.


"Keterisian kamar hotel terbagi-bagi karena jumlah hotel juga terus bertumbuh. Tapi kondisi ekonomi dan daya beli lagi turun sehingga ada pengaruhnya," ucapnya saat dihubungi di Balikpapan, Kamis (6/10/2016).

Selain itu, Yulidar mengatakan, apabila ada yang berhasil menjaga tingkat keterisian kamar tetap stabil, hanya hotel tertentu. Karena memiliki ikatan kerjasama dengan perusahaan.  

"Kalau berharap dari tamu hotel yang datang langsung menginap pastinya sangat kecil," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendapatan Daerah, Muhammad Noor mengakui peroleh pajak daerah pada sektor hotel dan restoran belum mencapai target.

"Memang okupansi hotel mempengaruhi perolehan pajak sehingga agak sulit kalo kita terus menarik pajak," jelasnya.

Noor mengaku perolehan pendapatan pajak restoran dan pajak hotel juga memberikan kontribusi yang besar pada perolehan pendapatan pajak daerah.

"Perolehan pajak hotel pada minggu pertama September 2016 baru teralisasi Rp24 miliar atau 57 persen dari target Rp43 miliar,"sebutnya.

Ia menambahkan, upaya yang dilakukan dengan selalu melakukan promosi melakukan meeting di Balikpapan agar tingkat hunian hotel terus berdampak.
[Ferry Cahyanti]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: