SENIN, 17 OKTOBER 2016

LAMPUNG---Musim rendeng yang mulai datang dengan curah hujan cukup tinggi berpengaruh bagi para petani yang mulai memasuki masa panen. Akibat hujan selama berjam jam bahkan berakibat tanaman padi petani milik warga terendam banjir akibat luapan sungai yang menerjang sepanjang bantaran sungai. Petani yang memasuki panen bahkan terpaksa harus memanen sebagian besar padi yang roboh dan sebagian tertimpa pasir kali diantaranya di Desa Gandri Kecamatan Penengahan dan Desa Pendowo. Meski demikian petani tetap memanen padi yang mereka miliki dengan cara memililah milah batang padi yang masih bisa dipanen sebab sebagian sudah tercabut dan hanyut terbawa banjir. Warga Dusun Kalisupi, Sulaiman (34) mengaku musim rendeng yang mulai datang bertepatan dengan musim panen menjadi sebuah musibah sekaligus kendala baginya. Selain sebagian padi terendam air dan pasir proses penjemuran juga akan cukup sulit karena cuaca tidak panas meski sebagian padi sudah berkecambah.


Sulaiman yang memiliki sawah di sepanjang bantaran sungai mengaku belum adanya tanggul penangkis membuat sebagian sawah milik warga yang sebagian sudah dipanen harus diterjang luapan air sungai. Sebagian petani yang sudah memanen padi dengan cara ditumpuk siap untuk dirontokkan terpaksa harus memindahkan padi ke tempat yang lebih tinggi diantaranya harus merontokkan padi di atas tanggul atau lereng lereng bukit. Ia mengaku rata rata hujan sepanjang bulan ini dominan terjadi di malam hari sehingga ia dan petani lainnya tidak sempat mengontrol sawah yang sebagian sudah siap panen.

"Kalau musim panen pas musim rendeng memang kami banyak mengalami kesulitan selain mengganggu kesehatan kami saat panen harus kehujanan, sawah di tempat kami menjadi langganan banjir dan saat harus merontokkan padi harus dibawa ke temoat yang tinggi takut terbawa arus sungai," ungkap Sulaiman saat berbincang dengan Cendana News, Senin (17/10/2016).


Ia cukup beruntung sebab sebagian sawah yang dipanen berada jauh dari pinggir sungai namun sebagian tanaman padi yang sudah ditumpuk hanyut terbawa arus sungai saat banjir datang malam hari. Ia berharap pihak terkait memikirkan langkah untuk membuat tanggul secara permanen agar ratusan hektar sawah di sepanjang aliran sungai tidak mengalami resiko terkena banjir terutama saat memasuki masa panen di musim rendengan. 

Terkait peninggian tanggul di sepanjang kali Supi, salah satu penyuluh pertanian dari Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) di wilayah tersebut, Mualimin, mengaku kondisi tersebut sudah dilaporkan ke instansi terkait namun usulan tersebut masih menunggu proses realisasi diantaranya proses pendalaman sungai dan pembuatan tanggul. Apalagi kerusakan tanggul sungai yang terjadi di wilayah Kabupaten Lampung Selatan juga terjadi di wilayah Kecamatan Candipuro dengan tanggul jebol mencapai 50 meter di sepanjang sungai Way Ketibung.


Musim Rendeng Petani Dihimbau Tanam Varietas Padi Tahan Rendam. Ia juga menghibau agara petani yang sudah menyelesaikan masa panennya memperhitungkan kondisi musim rendeng yang saat ini terjadi dengan menanam varietas padi tahan banjir dan tahan rendam diantaranya jenis padi unggul. Varietas padi yang disarankan oleh penyuluh pertanian dan dinas pertanian diantaranya varietas inoari 29, 30, 31 dan 33 yang menjadi solusi lahan padi yang kerap banjir pada musim penghujan atau musim rendeng. Selain tahan terhadap kondisi terendam air dan banjir varietas tersebut juga tahan serangan wereng batang coklat, sementara inpari 32 tahan dengan hawar daun bakteri (hwd).

"Perlu sosialisasi dan pendampingan kepada petani karena di sisi lain kondisi hujan mencukupi pasokan akan air tapi faktor bencana alam juga harus di perhitungkan," ungkap Mualimin.

Selain itu dalam kondisi cuaca yang ekstrim hingga saat ini ia menghimbau agar petani bisa menunda masa tanam terutama di wilayah yang berpotensi terdampak banjir karena selain memperhitungkan dampak keselamatan tanaman pangan yang bisa di alami kondisi banjir juga bisa menyebabkan kerugian tak diinginkan.


Selain kondisi musim rendeng yang berimbas bagi para petani, beberapa pemilik kolam ikan air tawar juga was - was akibat kolam yang mereka miliknya meluap. Sebagian besar pembudidaya ikan air tawar bahkan harus rajin memeriksa tanggul dan sebagian sengaja menjaring ikan yang ada di kolam untuk menghindari kerugian. Salah satunya di alami oleh Winarso, pemilik kolam ikan lele dan ikan gurami di Desa Berundung Kecamatan Ketapang. Ia mengaku selama musim rendeng ini beberapa petak kolam ikan yang diisi dengan ikan lele dan ikan nilai terancam beresiko tampias yang membuat ikan terbawa hanyut ke sungai.

"Jenis ikan lele kan ikan yang sangat peka dengan hujan air yang meluap sedikit saja ikan lele bisa keluar kolam kalau tidak cepat diangkat bisa rugi banyak saya," ungkap Winarso.

Ikan lele yang dibudidayakan berikut Nila dan ikan Emas miliknya merupakan sumber pasokan untuk sejumlah warung makan di wilayah tersebut. Ia sengaja memindahkan ikan ikan yang telah diamankan ke dalam waring dan bak bak penampungan di dalam rumah untuk menghindari kerusakan lebih besar terutama jika terbawa banjir.


Jurnalis : Henk Widi / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Henk Widi

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: