RABU, 19 OKTOBER 2016

LAMPUNG --- Para pedagang sudah berdatangan sejak subuh di jalan penghubung antara Desa Tetaan-Desa Gayam dan beberapa desa di sekitarnya. Sebagian besar merupakan pedagang kebutuhan pokok masyarakat sehari hari diantaranya beras, sayur mayur, daging, bahkan nyaris tak ada pedagang lain layaknya sebuah pasar. Meski demikian warga Desa Gayam Kecamatan Penengahan dan sekitarnya melakukan transaksi layaknya di pasar yang lokasinya berkilo kilometer dari desa tersebut. Menurut salah satu warga Gayam, Aminah (34)  pasar yang buka setiap hari Rabu tersebut sejatinya bukan pasar karena pasar yang ada di Kecamatan Penengahan ada di Desa Pasuruan dan Desa Belambangan. Namun awalnya akibat ada pedagang sayur, pedagang ikan yang membuka lapak dari bambu lama kelamaan menjadi sebuah tempat bertemunya penjual dan pembeli.


Aminah mengaku jika semua pedagang yang berada dari wilayah tersebut berdagang maka jalan sepanjang 50 meter dipenuhi oleh para pedagang yang menggunakan lokasi seadanya. Beberapa menggunakan terpal yang digelar, sebagian menggunakan lapak terbuat dari kayu atau bambu, sebagian menggunakan kendaraan roda dua atau roda tiga untuk menjajakan dagangan. Pedagang yang berjualan pun terlihat tidak mengganggu jalan karena aktifitas dilakukan sejak subuh hingga maksimal pukul 09:00 WIB dengan kondisi jalan yang belum banyak digunakan warga.

"Kami menyebutnya Pasar Reboan, tapi sebetulnya bukan pasar karena banyak barang barang yang selayaknya ada di pasar di sini tidak ada tapi untuk memenuhi kebutuhan sehari hari mudah memperolehnya dan lebih dekat,"ungkap Aminah saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (19/10/2016).


Pasar Rabu atau Pasar Reboan tersebut dimanfaatkan warga memperoleh sayur mayur yang masih segar, ikan yang masih segar sehingga bisa digunakan untuk kebutuhan sehari hari. Selain lebih hemat tanpa harus pergi jauh ke pasar, keberadaan pasar yang hanya ada setiap hari Rabu tersebut menjadi penyedia kebutuhan masyarakat sembari mengantar anak anak usia TK,SD berangkat ke sekolah. 

Salah seorang tokoh masyarakat di desa tersebut, Sobikin (45) mengaku untuk ketersediaan pasar tradisional masyarakat memang sudah dipenuhi dengan adanya pasar Pasuruan yang merupakan pasar yang digunakan oleh ratusan pedagang. Namun dengan keberadaan "pasar dadakan" tersebut juga membantu kebutuhan masyarakat sekitar terutama yang ingin memenuhi kebutuhan dapur.n Selain itu warga tak perlu menunggu begitu lama untuk pergi ke pasar tradisional lain yang jauh meski buka setiap hari Selasa dan Jumat.

"Jalan yang digunakan untuk berjualan juga bukan jalan yang cukup ramai sehingga masih bisa digunakan kendaraan untuk lewat dan pedagang dan pembeli sama sama membutuhkan,"ungkapnya.


Sobikin mengungkapkan sejak subuh jalan yang ada cukup ramai namun ketika siang tak terlihat sama sekali jika di kanan kiri jalan tersebut merupakan sebuah pasar. Sebagian warga yang tinggal di sekitar jalan tersebut yang rata rata juga memiliki aktifitas sebagai pedagang pun dengan cepat membersihkan sisa sisa sampah yang sebagian merupakan sortiran barang dagangan berupa sayur mayur. Uniknya pasar tersebut merupakan rujukan bagi para pedagang sayur keliling menggunakan kendaraan roda dua karena bisa memenuhi kebutuhan barang dagangan untuk dijajakan ke dusun dusun di pedalaman.

Salah satu pedagang sayur keliling, Umini (23) mengaku saat hari Rabu pasar yang buka cukup jauh sehingga dirinya memilih "kulakan" atau membeli barang dagangan untuk dijual lagi. Barang dagangan yang mayoritas sayur mayur tersebut rata rata sudah dikemas dalam bungkus bungkus plastik untuk dijajakan diantaranya sayur asem, jagung manis, ikan bawal, bumbu dapur diantaranya cabai, bawang merah, bawang putih dan kue kue tradisional. Selain dekat dan hanya ada setiap hari Rabu dirinya bisa memenuhi kebutuhan untuk barang dagangan secara berlanjut sambil menunggu pasar tradisinal Pasuruan yang buka setiap hari Selasa dan Jumat.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Henk Widi
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: