MINGGU, 16 OKTOBER 2016

LAMPUNG --- Surat edaran Menteri Kelautan dan Perikanan No 18/MEN-KP/2015tahun 2015 tentang pelarangan dan penangkapan lobster, kepiting dan rajungan sempat membuat nelayan harap harap cemas. Kecemasan para nelayan dan para distributor komoditas perikanan tersebut sempat terjadi khususnya terkait dengan ukuran berat yang boleh ditangkap dan diperjualbelikan. Sejumlah distributor dan penjual komoditas laut diantaranya rajungan, kepiting dan lobster bahkan harus rela ratusan ekor lobster, kepiting dan rajungan dilepasliarkan oleh balai karantina ikan di Bakauheni akibat tak memenuhi standar. Meski demikian sejumlah nelayan tangkap dan pembudidaya ketiga jenis komoditas laut dengan nilai ekonomis tinggi tersebut tak kehabisan akal. Beberapa nelayan di wilayah Ketapang, Kelawi diantaranya mulai menggunakan tekhnik keramba jaring apung untuk membesarkan lobster, kepiting serta rajungan yang belum memenuhi standar.


Salah seorang penangkap lobster di sekitar pantai Batu Alif Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni, Umar (34) mengungkapkan dirinya mulai membuat keramba jaring apung di dekat pantai yang teduh untuk digunakan sebagai keramba jaring apung. Tekhnik tersebut dilakukan untuk membesarkan kepiting, lobster, rajungan yang ia tangkap dengan menggunakan bubu serta alat tangkap tradisional lain. Selain keinginan pribadi untuk melakukan pembesaran lobster sehingga bisa dijual saat telah memenuhi ukuran berat dan diperjualbelikan ia mengaku sosialisasi dari Dinas Kelautan dan Perikanan, balai karantina ikan memberinya pemahaman baru tentang budidaya hasil laut. 

"Awalnya sempat kami mengeluh karena tidak bisa menjual komoditas tersebut dengan alasan adanya aturan menteri kelautan tapi setelah ada sosialisasi dan tentunya dengan adanya pelatihan kami diberikan solusi agar tetap bisa mencari nafkah,"ungkap Umar saat ditemui Cendana News di pantai Batu Alif, Minggu (16/10/2016).

Ia mengungkapkan proses penangkapan ikan diantaranya lobster, rajungan, kepiting dilakukan olehnya dengan cara tradisional menggunakan umpan kelapa yang dilubangi. Selain itu dirinya menggunakan bubu sebanyak 100 buah yang diletakkan di beberapa titik yang diyakini banyak terdapat udang jenis lobster. Usaha yang dilakukannya tersebut sempat memberinya keuntungan sebesar Rp450-500ribu perminggu, namun kini ia harus bersabar karena sebagian lobster yang ditangkap diantaranya belum memenuhi standar berat dan penjualan. Selama ini ia mengaku menangkap lobster dengan ukuran dibawah 200 gram yang dijual kepada pengepul dengan harga rata rata sekitar Rp100-Rp150ribu meski harga lobster tersebut di pasaran mencapai Rp200ribu ke atas pekilogramnya.

Beberapa jenis lobster yang ditangkap olehnya diantaranya jenis lobster mutiara, lobster pasir, lobster bambu, lobster batik. Sementara nelayan lain bisa memperoleh lobster jenis lobster batu, kipas merah yang banyak terdapat di batu batu karang di sekitar pantai Desa Kelawi yang membentang dari Blebug hingga Tanjung Tua. Kontur pantai yang penuh dengan batu batuan dan sulit diakses dari darat dan hanya bisa diakses dari laut membuat biota laut tersebut bisa berkembang biak dengan baik di wilayah perairan setempat.

Keramba sederhana yang dibuat oleh Umar diakuinya hanya berukuran sekitar 4x6 meter terbuat dari drum drum plastik dan bambu yang dirakit menyerupai kolam dan ditambatkan dengan pelampung agat tak terbawa arus. Keramba tersebut bahkan bisa dipindah jika kondisi cuaca tidak baik dan dipasng pada lokasi yang tidak terkena ombak dan angin cukup kencang. Proses pembesaran lobster yang dilakukannya setelah ditangkap bisa memakan waktu sekitar 3-4 bulan atau lebih dan dilakukannya sebagai tabungan untuk dijual saat ukuran dan berat memenuhi standar. Setelah melakukan proses pembudidayaan menggunakan keramba jaring apung tersebut terbukti telah membuatnya bisa meningkatkan pendapatan tanpa kuatir lobster yang dijualnya justru akan dilepasliarkan jika tertangkap petugas karantina sesuai dengan SE Menteri KKP.

"Setidaknya meski ada pelarangan kami masih diberi solusi sehingga usaha yang kami lakukan selama ini tidak terhambat hanya soal waktu yang agak lama untuk proses pembesaran menunggu berat yang diperbolehkan dijual,"ungkap Umar.


Beberapa pembudidaya menggunakan tekhnik keramba jaring apung yang selain dilakukan Umar diantaranya dilakukan di Dusun Keramat meski sebagian membudidayakan ikan kerapu. Selain budidaya ikan kerapu beberapa petak keramba jaring apung sengaja digunakan untuk pembesaran Lobster yang ditangkap nelayan dan belum memenuhi standar berat dan ukuran.

Terkait penerapan Surat edaran Menteri Kelautan dan Perikanan No 18/MEN-KP/2015tahun 2015 tentang pelarangan dan penangkapan Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scylla spp.), Rajungan (Portunus spp.) tersebut pihak karantina ikan Bakauheni telah melakukan tindakan tegas beberapa kali dengan melakukan pelepasliaran. Berdasarkan data sebanyak 200 ekor lobster di bawah ukuran dilepasliarkan di perairan Bakauheni milik waarga Kota Agung Kabupaten Tanggamus, selain itu sebanyak 225 ekor lobster milik Masri warga Kecamatan Bengkunat Kabupaten Pesisir Barat juga dilepasliarkan.

"Semua lobster yang dilepasliarkan memang tidak memenuhi standar yang mengacu pada surat edaran menteri Kelautan dan Perikanan, tapi sekarang sudah tak banyak yang mengirim di bawah ukuran,"ungkap Catur S Udiyanto petugas dari karantina ikan Bakauheni.

Selain sebanyak 425 ekor lobster di bawah standar yang dilepasliarkan sebanyak 900 ekor lobster juga pernah dilepasliarkan akibat sebagain lobster dalam kondisi bertelur. Ia mengungkapkan saat ini telah berkoordinasi dengan pihak dinas kelautan setiap kabupaten untuk melakukan sosialisasi sekaligus pembinaan kepada sejumlah nelayan. Selain itu tekhnik budidaya yang baik agar lobster, rajungan dan kepiting yang dijual sesuai ukuran menjadi tugas dinas kelautan dan perikanan setempat.

Ia mengakui berdasarkan aturan bahwa pembatasan ukuran Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scylla spp.), Rajungan (Portunus spp.) yang boleh ditangkap dilaksanakan secara bertahap. Tahapan tersebut diantaranya:

Bulan Januari 2015 sampai Desember 2015 ukuran berat yang boleh ditangkap dan diperjualbelikan yaitu:
- Lobster (Panulirus spp.) dengan ukuran berat >200 gram
- Kepiting (Scylla spp.) dengan ukuran berat >200 gram
- Rajungan (Portunus spp.) dengan ukuran berat >55 gram
- Kepiting Soka (Scylla spp.) dengan ukuran berat >150 gram

Bulan Januari 2016 dan seterusnya ukuran berat yang boleh ditangkap dan diperjualbelikan yaitu:

- Lobster (Panulirus spp.) dengan ukuran panjang karapas > 8 sentimeter atau dengan berat >300 gram
- Kepiting (Scylla spp.) dengan ukuran lebar karapas >15 sentimeter atau berat >350 gram
- Rajungan (Portunus spp.) dengan ukuran lebar karapas >10 centimeter atau dengan ukuran berat >55 gram


Ketentuan pelarangan dan pembatasan penangkapan Lobster, Kepiting dan Rajungan tersebut menurutnya dikecualikan untuk kegiatan peneilitan dan pengembangan serta pendidikan.
[Henk Widi]
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: