SABTU, 15 0KTOBER 2016

LAMPUNG --- Hujan lebat yang mengguyur wilayah Lampung Selatan mengakibatkan bencana tanggul jebol di wilayah Kecamatan Candipuro dan merendam lahan persawahan milik petani setempat. Selain mengakibatkan sawah terendam dan tanggul jebol dampak banjir yang meluap dari aliran sungai Way Ketibung, Way Pisang pun berdampak pada tertimbunnya material sampah di bendungan Way Pisang yang terletak di Desa Palas Pasemah Kecamatan Palas. Puluhan ton kubik sampah diantaranya material sampah rumah tangga, sampah kayu dari aliran sungai menumpuk di bendungan. 


Salah seorang petani setempat, Arman (34) mengungkapkan sebelumnya banjir sempat mengakibatkan air sungai meluap ke areal persawahan milik petani yang ada di dalam tanggul namun akhirnya setelah warga membersihkan material sampah air kembali surut. Beruntung material sampah bisa disingkirkan meski sebagian besar masih tertahan di bendungan dan menutup saluran air sekunder ke beberapa areal sawah milik petani. 

Arman mengungkapkan jembatan sekaligus bendungan di aliran sungai Way Pisang tersebut merupakan salah satu bendungan yang hingga kini difungsikan untuk mengaliri lahan sawah ratusan hektar di Desa Palas Aji, Desa Palas Pasemah dan aliran sungai mengaliri sawah di Kecamatan Sragi. Meski telah dibuat tanggul sepanjang sungai namun sebagian tanggul mengalami kerusakan akibat besarnya debit air saat musim penghujan ditambah dengan material sampah yang terbawa aliran sungai. Kejadian banjir tahun ini pun tidak terlalu parah seperti tahun sebelumnya yang sempat merendam areal sawah yang menguning selama beberapa hari.


"Sebagian sawah di dalam tanggul memang terendam namun petani segera menyingkirkan sampah yang menyumbat pintu air dan bendungan tapi sampah sampah berupa material kayu berukuran besar tak dapat disingkirkan sampai sekarang masih tertahan di pintu bendungan,"ungkap Arman saat ditemui Cendana News, Sabtu (15/10/2016).

Menurut Amran bendungan yang ada di titik tanah Bina Marga 09 tersebut merupakan bendungan di aliran sungai Way Pisang dan merupakan bagian dari proyek pengendalian Banjir dan Pengamanan Pantai (PBPP) Way Seputih-Way Sekampung (WS-WS). Bendungan yang dibangun sejak puluhan tahun lalu tersebut menurutnya terbukti telah mampu menjadi sumber pengairan bagi petani setempat meski kondisinya sudah mulai memprihatinkan diantaaranya pintu pintu air ke saluran sekunder dari saluran primer yang alat pengatur aliran airnya sudah hilang. Selain itu sebagian tanggul sudah mengalami keretakan.

Dampak banjir di aliran Sungai Way Pisang hingga kini berdasarkan pantauan Cendana News berakibat proses sedimentasi (pendangkalan) di sepanjang aliran tersebut menjadi semakin parah. Pendangkalan yang terjadi akibat tidak adanya normalisasi dengan cara pengerukan membuat saat terjadi banjir air sungai meluap ke lahan pertanian masyarakat. Selain itu alat pengatur aliran air yang terbuat dari besi berikut jembatan dan pagar pagar jembatan sebagian rusak masih menjadi keprihatinan petani setempat untuk segera mendapat perhatian dari instansi terkait.


Petani penggarap sawah di Desa Palas Pasemah, Sobirin (40) bahkan mengaku normalisasi sungai Way Pisang sebelumnya pernah dilakukan di beberapa titik dengan cara melakukan pelebaran namun saat kondisi banjir besar dengan material sampah cukup banyak berakibat sungai meluap ke lahan pertanian masyarakat. Ia berharap normalisasi juga bisa dilakukan dan ada upaya melakukan pembersihan material sampah di pintu bendungan dengan menggunakan alat berat atau instansi terkait yang mengurusi bidang pengairan bisa melakukan upaya pembersihan sampah.



Sebelumnya proses normalisasi Sungai Way Pisang telah dilakukan sepanjang 2.000 meter yang melintasdi 5 desa di Kecamatan Palas. Normalisasi dilakukan dengan melakukan pengerukan untuk proses pelebaran sungai di wilayah aliran yang menjadi wilayah kerja Direktorat Jenderal Sumberdaya Air Balai Besar wilayah Sungai Mesuji Sekampung.  Proyek normalisasi sungai tersebut selain dilakukan untuk mengantisipasi meluapnya sungai ke perumahan warga juga menghindari air sungai merusak lahan pertanian. Sebelum proses normalisasi sungai warga di sekitar bantaran sungai kerap mengalami luapan air sungai hingga ke dalam rumah diantaranya warga Dusun Rantau Makmur, Dusun Simpang Kenaat, Dusun Sukaraja berikut lahan perkebunan sawit. 

Jurnalis : Henk Widi / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Henk Widi


Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: