MINGGU, 9 OKTOBER 2016

LAMPUNG --- Pengiriman berjenis jenis satwa dari beberapa wilayah di Pulau Sumatera hingga kini masih marak terjadi. Beberapa diantaranya menggunakan moda transportasi darat menggunakan bus penumpang, kendaraan ekspedisi maupun kendaraan pribadi. Berdasarkan catatan dari pihak Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandarlampung wilayah Kerja Pelabuhan Bakauheni dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu wilayah Lampung ribuan satwa dengan dominan satwa tak dilindungi, sebagian dilindungi masih marak terjadi. Kondisi tersebut membuat prihatin pemerhati satwa dari wilayah hutan lindung Gunung Rajabasa, Aminudin (37) yang juga pemerhati kawasan hutan lindung Register 3 Gunung Rajabasa. Ia mengaku sangat menyayangkan kurangnya sosialisasi masyarakat di sekitar kawasan hutan untuk mengurangi perburuan liar terutama bagi satwa yang dilindungi.


Aminudin mengungkapkan tugas untuk mengawasi upaya perburuan satwa terutama satwa yang dilindungi sebetulnya sudah ada aturannya namun masih belum adanya kesadaran dari masyarakat membuat perburuan, perdagangan satwa masih kerap terjadi. Meski demikian ia memuji langkah dari masyarakat di sekitar kawasan hutan lindung Gunung Rajabasa yang masih menjaga keasrian gunung tersebut terutama dalam menjaga satwa. Salah satu faktor yang mengurangi upaya perburuan satwa di kawasan tersebut diantaranya terjaga kearifan lokal untuk menjaga satwa yang ada di wilayah tersebut diantaranya masih adanya satwa satwa jenis monyet,rusa, harimau.

"Kalau masyarakat sudah cukup sejahtera dengan hanya melakukan pengolahan lahan perkebunan di sekitar hutan maka godaan untuk menangkap satwa pasti tidak ada namun jika penghasilan dari berkebun saja tidak cukup maka perburuan satwa menjadi pilihan,"ungkap Aminudin yang tinggal di Desa Merambung Kecamatan Penengahan, kawasan yang berada tepat di bawah hutan lindung Gunung Rajabasa saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (9/10/2016).


Aminudin tidak menampik kerusakan hutan yang pernah terjadi mengakibatkan beberapa satwa yang ada di kawasan hutan lindung Gunung Rajabasa sempat turun diantaranya jenis monyet liar, rusa gunung, harimau. Beberapa satwa tersebut turun sekitar tahun 2010 akibat masa kekeringan yang mengakibatkan sumber makanan sulit diperoleh diantaranya bahkan memangsa ternak milik warga. Namun kejadian tersebut tidak berlangsung lama setelah kesadaran masyarakat untuk menjaga hutan dengan tidak melakukan penebangan kayu sebagai habitat asli satwa tersebut.

Kawasan yang mulai terjaga kembali tersebut bahkan kini menjadi lokasi pelepasliaran satwa satwa yang dikirim dengan tanpa dilengkapi dokumen dari BKSDA atau karantina. Tercatat beberapa kali pelepasliaran satwa dilindungi diantaranya jenis Kukang di Desa Merambung Kecamatan Rajabasa bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan RI, BKSDA dan WWF dengan cara melepaskan ratusan kukang yang diselundupkan dari wilayah Sumatera dan berhasil digagalkan di pelabuhan Bakauheni. Selain itu pelepasliaran berbagai jenis burung berkicau telah dilakukan oleh BKP bersama BKSDA, Polres Lampung Selatan di Desa Babulang Kecamatan Kalianda.


"Saya rasa itu langkah yang tepat yang seharusnya dilakukan dimana saat pengamanan satwa liar dilindungi atau tidak dilindungi maka perlu segera dilepasliarkan dan hutan Rajabasa merupakan kawasan yang mendukung karena sesuai dengan habitat asli satwa yang akan diselundupkan,"ungkap Aminudin.

Aminudin mengaku sosialisasi yang dilakukan oleh instansi terkait saat ini masih perlu ditingkatkan lagi dengan konsep hutan kemasyarakatan bukan sekedar hanya bersifat larangan. Ia mengaku meski masyarakat telah dilarang melakukan aktifitas pemanfaatan hutan namun masyarakat belum diberi alternatif untuk mencari sumber pendapatan ekonomi yang akan mengurungkan niat untuk merusak hutan atau melakukan perburuan satwa. Salahs atu konsep yang telah diterapkan oleh masyarakat di Desa Way Kalam diantaranya dengan membentuk Desa Wisata berbasis hutan karena kawasan Desa Way Kalam merupakan kawasan terdekat dengan hutan lindung dan memiliki destinasi wisata alam berupa air terjun.


Lokasi air terjun Way Kalam atau dikenal dengan Curug Way Kalam menurut Aminudin adalah salah satu konsep memanfaatkan hutan lindung tanpa merusak keaslian dan habitat satwa yang ada di kawasan tersebut. Saat pagi hari pengunjung bahkan masih bisa menjumpai ratusan ekor kera yang berlompatan dari dahan ke dahan, berbagai jenis burung kicau serta satwa lain. Hobi mengamati burung (bird watching) menggunakan kamera atau teropong bisa dilakukan di kawasan tersebut tanpa menangkap burung liar di kawasan hutan.

Sumber ekonomi baru yang bersumber dari kawasan hutan tersebut diantaranya dilakukan oleh masyarakat dengan menjual beberapa buah buahan segar bagi wisatawan. Beberapa diantaranya bahkan menjaga tempat parkir dan menyediakan home stay (rumah singgah ) bagi wisatawan yang akan singgah lama untuk menikmati keindahan kawasan hutan lindung Gunung Rajabasa.

Aminudin tidak menampik hobi memelihara satwa masih banyak dilakukan meski kepemilikan dan upaya mendapatkan satwa tersebut beragam cara. Ia mengaku tidak mempersoalkan jika jenis burung yang dipelihara merupakan upaya penangkaran atau budidaya bukan merupakan tangkapan dari hasil hutan. Proses dan upaya penangkapan satwa liar menurutnya masih terjadi akibat adanya kebutuhan ekonomi (economy needed), demand (permintaan) dan supply (penyediaan). Mata rantai tersebut tidak bisa diputus karena berhubungan dengan kebutuhan ekonomi masyarakat yang tinggal di kawasan hutan sehingga ada istilah pengepul satwa yang bekerja melakukan penangkapan satwa dengan menggunakan perangkap, jaring, jebakan dan setelah satwa yang ditangkap dalam jumlah banyak akan dikirim ke pemesan.

"Tugas kita bersama tidak hanya instanti kehutanan, BKSDA, karantina tetapi peran lembaga swadaya masyarakat serta masyarakat di sekitar hutan yang merasa memiliki kawasan hutan bukan saja sebagai sumber ekonomi tapi sebagai kawasan konservasi,"ungkapnya.

Beberapa satwa liar baik dilindungi maupun tak dilindungi yang sempat diamankan di pintu keluar Pulau Sumatera berdasarkan catatan Cendana News diantaranya jenis Trenggiling (paramanis javanica), Kura kura kaki gajah (monouria Emys), elang brontok (nisaetus cirrhatus), jalak nias (achridotheres tristis), kera ekor panjang (macaca fascicularis),ular berbagai jenis, burung berbagai jenis, ikan arwana. Selain dilalulintaskan tanpa dokumen BKSDA, Karantina, berbagai jenis satwa tersebut diantaranya merupakan satwa dilindungi dan sebagian masuk apendix 1 yang dilindungi.

Upaya mencegah kepunahan dilakukan oleh karantina, BKSDA berkoordinasi dengan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) serta kawasan hutan nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Beberapa satwa jenis kura kura yang gagal diselundupkan diantaranya dilepasliarkan di sungai yang masih alami di kawasan hutan lindung Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Catur, salah satu petugas dari karantina ikan Lampung wilayah kerja Pelabuhan Bakauheni mengungkapkan pelepasliaran ke habitat asli dilakukan untuk menekan upaya perburuan terhadap satwa dilindungi dan upaya pelestarian agar bisa berkembang biak di habitat aslinya.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Henk Widi

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: