SABTU, 1 OKTOBER 2016

LARANTUKA --- Pemimpin daerah dalam hal ini pemerintah kabupaten atau kota, provinsi hingga pemerintah pusat tidak boleh tidur nyenyak sementara rakyatnya sedang mengalami kelaparan.

Marten Dira Tome, bupati Sabu Raijua bersama istri saat tiba di gedung OMK Keuskupan Larantuka.
Demikian disampaikan bupati Sabu Raijua, Marten Dira Tome saat ditemui Cendana News di Larantuka, Jumat (30/9/2016) sore usai kegiatan di gedung OMK Keuskupan Larantuka.

Dikatakan Marten, situasi hari ini, di semua wilayah NTT dibutuhkan terciptanya lapangan kerja. Untuk itu lakukan usaha yang bisa menciptakan lapangan kerja saat ini. Misalnya, masyarakat butuh perahu pemerintah kasih perahu.

“Kita harus lakukan usaha-usaha yang cepat. Harus bisa menjembatani agar semua produk petani dan nelayan harus mendapat pasar yang pasti” ujarnya. 

Provinsi NTT ini sebut Marten, memiliki potensi di laut dan darat.Dilaut ada garam, rumput laut dan ikan namun di darat pun kita kembangkan. Ada waktu kita bersahabat dengan laut dan ada waktu kita bersahabat dengan darat.

Program di darat juga tergantung apakah kita kembangkan holtikulutura atau lainnya.Intinya semua potensi yang ada kata Marten harus bisa dipetakan dan pemerintah melakukan terobosan dengan menciptakan pasar.

“Kami pemerintah di Sabu Raijua bangun pabrik garam, rumput laut, pengalengan ikan, air mineral dan pabrik karung. Dengan demikian lapangan kerja tercipta dan masyarakat bisa mendapatkan pekerjaan dan keuntungan” terangnya.

Seorang pemimpin NTT ke depan tegas Marten, harus memiliki jiwa wirausaha  dan harus pekerja keras. Kelemahan masa lalu harus pendorong untuk bangkit mengatasi berbagai permasalah yang terjadi selama ini yakni kemiskinan dan pengangguran.

Kemiskinan papar bupati Sabu Raijua dua periode ini,harus diselelsaikan dengan memanfaatkan potensi yang ada. Dari hulu sampai hilir harus kita lakukan bersama, petani dan peternak harus didorong.

Marten Dira Tome dan istri yang diterima secara adat saat berkunjung ke Larantuka
“Lalu pemerintah sambut dengan usaha hilirnya, ciptakan kestabilan harga dan buat sentra produksi atau pabrik. Dengan demikian kemsikinan tercapai dan lapangan kerja tersedia” tandasnya.

Perdagangan manusia di NTT beber Marten, terjadi karena kekurangan lapangan kerja. Pemerintah selalu menghembuskan dan menciptakan isu bahwa di Malaysia ada hujan emas padahal disana mereka juga menjual nyawa. 

Di daerahnya, Sabu Raijua ungkap Marten, dirinya saat menjabat melakukan pendataan dan ternyata ada 12 ribu masyarakat yang menganggur. Dirinya mulai berpikir dan memanfaatkan potensi yang ada baik di laut dan darat.

Pabrik garam, rumput laut.air mineral, karung dan pengalengan ikan pun dibangun sehingga masyarakat tidak ada yang menganggur. Semua hasil produksi petani dibeli dengan harga yang layak.

“Bila semua pemerintah bisa melakukan hal seperti yang sudah saya lakukan maka tidak ada lagi warga NTT yang merantau ke Malaysia dan perdagangan orang dengan sendirinya hilang sebab lapangan kerja sudah tersedia” pungkasnya.
(Ebed de Rosary)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: