SENIN, 3 OKTOBER 2016

YOGYAKARTA --- Rencana Pemerintah Daerah DI Yogyakarta untuk merestorasi Gumuk Pasir di kawasan pesisir Pantai Selatan, Bantul, terus berjalan. Saat ini, beberapa warga terdampak bahkan sudah mulai membongkar bangunannya sendiri.


Rencana restorasi gumuk pasir di kawasan pesisir Pantai Selatan Parangtritis sempat menjadi perhatian luas, menyusul aksi unjukrasa beberapa waktu lalu yang dilakukan sekelompok orang yang mengatas-namakan warga terdampak dan komunitas mahasiswa Komite Reformasi Agraria (KOPRA).
Namun demikian, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bantul, Hermawan, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (3/10/2016), mengatakan, proses penataan, penertiban kawasan gumuk pasir di sejumlah titik di Desa Parangtritis berjalan lancar. Dikatakan, penduduk asli setempat yang terdampak penertiban justru mendukung rencana Pemda DIY. Kendati demikian, Hermawan mengakui jika ada sejumlah pihak yang menggerakkan massa untuk berunjukrasa menolak penataan kawasan gumuk pasir dengan dalih penggusuran tanah milik rakyat.

"Padahal, kita tidak bicara soal tanah. Tapi lahan gumuk pasir milik Keraton yang oleh Pemerintah Daerah akan ditertibkan demi pelestarian kawasan zona inti gumuk pasir dan sekitarnya", jelasnya.
Hermawan mengatakan, sejauh ini pihaknya optimis penataan kawasan gumuk pasir akan berjalan damai. Upaya persuasif terus dilakukan, dan bagi sejumlah warga yang masih belum merespon, pada pekan ini pihaknya akan mengirimkan surat peringatan. Jika dalam tiga hari belum juga ada respon, surat peringatan kedua akan dikirimkan. Demikian seterusnya hingga dirasa perlu dilakukan tindakan.
Sebelumnya, warga terdampak diberikan batasan waktu hingga 1 Oktober kemarin. Namun, Hermawan mengatakan, pihaknya masih akan memberikan kelonggaran karena tidak ingin ada upaya-upaya lain kecuali persuasi.

Hermawan menegaskan, dalam penataan kawasan gumuk pasir tersebut tidak akan ada ganti rugi maupun kompensasi apa pun, karena jika hal itu diberikan justru akan melanggar aturan. Pasalnya, warga selama ini hanya menempati dan mengelola saja, sehingga ketika diminta dan hendak ditata untuk pelestarian kawasan gumuk pasir oleh pemiliknya, tidak ada kata lain kecuali harus menurut. ( Koko )

Bagikan:

Erens Saumuru

Berikan Komentar: