SENIN, 3 OKTOBER 2016

YOGYAKARTA --- Gumuk Pasir atau Gurun Pasir di pesisir Pantai Selatan, Parangtritis, Bantul, mulai dikenal luas sejak warga setempat memanfaatkannya sebagai obyek wisata. Namun, perkembangan kawasan gumuk pasir saat ini dirasa kian mengkhawatirkan keberadaan gumuk pasir itu sendiri.


Gumuk Pasir tak hanya sekedar obyek wisata. Lebih dari itu, gumuk pasir yang terbentuk dari igir pantai yang terbawa angin sehingga membentuk gundukan pasir yang oleh warga setempat disebut gumuk pasir, memiliki fungsi sebagai penahan tsunami dan filter air laut yang merembes ke daratan.
Seiring dengan perkembangan kawasan pesisir pantai sebagai obyek wisata, kawasan gumuk pasir terancam tergusur. Saat ini banyak lapak-lapak didirikan di kawasan zona inti gumuk pasir. Sementara, warga juga memanfaatkan lahan di sekitar zona inti gumuk pasir sebagai lahan pertanian, kandang ternak sapi dan ayam serta tambak udang. Hal demikian dipandang mengancam kelestarian gumuk pasir, sehingga Pemerintah Daerah DI Yogyakarta hendak merestorasi atau menata ulang kawasan zona inti gumuk pasir.


Rencana tersebut memang membuat sebagian warga menolak. Namun, tak sedikit pula warga terdampak yang setuju dan mendukung langkah Pemda setempat untuk menata kawasan gumuk pasir. Bahkan, hampir 100 Persen warga Dusun Grogol X, Parangtritis, Kretek, Bantul, mendukung upaya penataan kawasan gumuk pasir.
Ketua Karang Taruna Prahara Dusun Grogol X sekaligus pengelola obyek wisata Gumuk Pasir Parangtritis, ditemui Senin (3/10/2016), mengungkapkan, di Dusun Grogol X beberapa lahan di kawasan gumuk pasir yang terdampak restorasi gumuk pasir selama ini digunakan sebagai kandang ternak sapi dan ayam, pertanian palawija dan tambak udang. Sementara gumuk pasir di zona inti dimanfaatkan sebagai obyek wisata, dengan bangunan pendukung berupa tempat parkir dan kafe yang dibuat semi permanen.
Dengan adanya rencana penataan kawasan, Johan dan sebagian besar masyarakat Dusun Grogol X mengaku tak keberatan. Selain menyadari jika kawasan gumuk pasir bukan miliknya, Johan percaya jika Pemda DIY pasti tak sekedar menggusur warga.
Selama ini, kata Johan, sejumlah orang yang tak setuju dengan penataan kawasan gumuk pasir justru bukan warga asli setempat. Melainkan warga pendatang yang biasanya membuka lahan tambak udang dan warung.


Johan bahkan mengaku justru merasa terganggu dengan sekelompok orang yang menyebar selebaran di kawasan obyek wisata gumuk pasir, yang intinya mengajak untuk menolak penataan kawasan gumuk pasir.
Diakui Johan pula, ada sedikit kesal yang dirasakan warga ketika mendengar akan ada penataan kawasan, karena warga merasa telah susah payah memanfaatkan lahan pasir menjadi lahan produktif. Namun demikian, ditegaskan Johan, pada umumnya masyarakat Dusun Grogol X bisa memaklumi dan sadar diri, jika lahan tersebut memang bukan miliknya.
Kawasan zona inti gumuk pasir saat ini ada sekitar 141 Hektar. Keberadaannya ditandai dengan sejumlah patok berwarna kuning dengan logo Keraton Yogyakarta. Sementara itu gumuk pasir yang dimanfaatkan sebagai obyek wisata, kata Johan, mampu memberikan pemasukan sebesar Rp. 30 Juta Per Bulan.
"Selain untuk kas karang taruna, uang tersebut juga untuk menggaji 30 anggota karang taruna yang terlibat dalam pemanfaatan gumuk pasir sebagai obyek wisata", pungkasnya. (koko)
.

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: