SENIN, 17 OKTOBER 2016

YOGYAKARTA --- Penambangan pasir ilegal di lereng Gunung Merapi, Sleman, hingga kini terus berlangsung. Pemerintah Desa setempat mengaku kesulitan mencegah aktifitas ilegal tersebut, karena kurangnya kesadaran warga sekitar yang masih minim terkait pentingnya keselamatan lingkungan.



Penambangan pasir ilegal di kawasan lereng Gunung Merapi saat ini disinyalir terus terjadi. Sikap permisifnya warga sekitar terhadap aktifitas penambangan pasir di kawasan lahan milik warga dinilai semakin membuat penambangan pasir ilegal terus terjadi.

Camat Kecamatan Cangkringan, Edi Hermana, ditemui di ruang kerjanya, Senin (17/10/2016), mengatakan, selama ini ada dua kawasan penambangan pasir, yaitu di kawasan sungai dan lahan. Sejauh ini, katanya, seringkali penambangan pasir di wilayah lereng Gunung Merapi dilakukan ilegal, karena sulitnya pengurusan perizinan.

Namun, pengawasan yang terus-menerus dilakukan sangat berdampak baik bagi menurunnya jumlah aktifitas penambangan pasir ilegal. Hanya saja, kata Edi, penambangan pasir di lahan milik warga menjadi yang sulit dicegah, karena lahan tersebut merupakan hak milik warga.


Edi menjelaskan, penggalian pasir di lahan milik warga sering dilakukan dengan sistem tebas. Artinya, ada pihak lain yang menyewa tanah milik warga hanya untuk dikeruk pasirnya dan setelah itu lahan dikembalikan lagi kepada pemiliknya.

Dengan nilai tebas atau sewa tanah untuk dikeruk pasirnya mencapai Rp. 50-100 Juta untuk lahan seluas 500-1.000 meterpersegi, kata Edi, warga banyak yang tergiur untuk menyerahkan lahannya sementara untuk dikeruk pasirnya.

"Padahal, penambangan pasir dengan cara seperti itu dipastikan tidak akan mempedulikan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan akibat galian-galian pasir. Banyak lubang-lubang bekas penggalian pasir dibiarkan begitu saja", ungkapnya.

Dengan kondisi tersebut, Edi mengaku pihaknya tak bisa berbuat banyak untuk mencegahnya. Pasalnya, acapkali warga beralasan terdesak kebutuhan sehingga merelakan tanahnya disewa untuk dikeruk pasirnya.

Sejauh ini, kata Edi, pihaknya hanya bisa memberikan sosialisasi mengenai dampak penggalian pasir terhadap kerusakan lingkungan, utamanya dampak terhadap menyusutnya persediaan air. Apalagi, saat ini ketika ancaman bencana banjir bandang dan longsor semakin nyata. Selama ini, katanya, Cangkringan juga merupakan daerah resapan air dan menyuplai kebutuhan air di sebagian besar wilayah Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman.

Jurnalis : Koko Triarko / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Koko Triarko

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: