KAMIS, 13 OKTOBER 2016

LAMPUNG --- Usaha penggilingan padi menetap di sejumlah kecamatan mulai mengalami persaingan usaha dengan jenis mesin gilingan padi keliling. Mesin penggilingan padi yang dikenal dengan selep tersebut menjadi tempat utama bagi warga yang ingin mengolah gabah keringnya menjadi beras. Namun sejumlah pemilik penggilingan padi menetap di Desa Sukarandeg Kecamatan Sragi merasakan dampak pengurangan penghasilan paska maraknya penggilingan padi keliling yang bahkan bisa mendatangi pemilik gabah hingga ke rumah pemilik padi yang akan digiling. Salah seorang pemilik penggilingan menetap, Hanuri (40) mengaku pengurangan pelanggan sekitar 40 persen dirasakannya sejak satu tahun terakhir. Meski demikian ia tak mampu berbuat banyak dengan munculnya usaha jenis baru yang menyasar para pemilik gabah di pedesaan tersebut.


Hanuri mengaku dirinya sudah memiliki tempat penggilingan padi sejak tujuh tahun lalu dengan dua mesin penggilingan. Namun seiring dengan banyaknya pemilik mesin penggilingan padi keliling ia akhirnya hanya mengoperasikan sebanyak satu unit mesin penggilingan dengan tiga karyawan yang bertugas melakukan proses penjemuran, penggilingan hingga proses pengepakan beras. Upaya yang dilakukan olehnya dengan modal membeli tempat penggilingan padi yang tak terpaka sebesar Rp75juta dilakukan dengan inovasi menjual beras di sejumlah pasar tradisional.

"Kalau tidak berinovasi kita bisa gulung tikar terutama saat ini mesin giling keliling mulai banyak di sini dan kita hanya memiliki beberapa pelanggan setia,cara terbaik agar masih tetap bertahan dengan menjual beras yang telah kita giling,"ungkap Hanuri saat ditemui Cendana News di pabrik penggilingan padi di Desa Sukarandeg Kecamatan Sragi, Kamis siang (13/10/2016).

Awalnya ia mengaku memiliki hampir sekitar 30 pelanggan tetap petani yang menggiling padi di tempat tersebut namun kini hanya tinggal sekitar 15 orang dan dipastikan akan terus berkurang. Salah satu faktor pengurangan tersebut diantaranya saat ini petani tidak perlu bersusah payah membawa gabah yang telah kering ke penggilingan melainkan cukup di depan rumah masing masing sudah bisa mengubah gabah kering menjadi beras dengan sistem upah perkilogram atau sistem pembagian beras. 

Hanuri mengaku memulai usahanya dengan sistem menebas atau membeli padi setengah bulan sebelum panen. Sesudah padi di panen padi tersebut dijemur di lokasi penggilingan dan diolah menjadi beras. Meski demikian ia mengaku pada masa panen kali ini harga padi yang dibeli dengan haraga Rp420ribu perkuintal (100 kilogram) akan menyusut menjadi sekitar 55 kilogram setelah dijemur dan digiling menjadi beras. Artinya dengan harga Rp7.800 perkilogram ia hanya memperoleh uang sebesar Rp429ribu dengan selisih keuntungan Rp9ribu tersebut dirinya masih harus membayar beberapa karyawan.

"Kalau mau hitung hitungan ekonomis memang kita pemilik penggilingan masih impas dan terkadang rugi namun jika tidak kita jalankan bisnis ini kasihan para karyawan yang bergantung hidup dari kita,"ungkap Hanuri.

Selain adanya persaingan munculnya alat penggilingan padi keliling, ia mengaku biaya biaya operasional diantaranya membayar pajak ke desa sebesar Rp1.250.000,- per tiga tahun merupakan salah satu buaya rutin yang harus dibayarkannya. Sementara para karyawan memperoleh beras atau dalam wujud uang dengan sistem pembagian 5:1 atau saat menghasilkan beras sebanyak 5 kilogram maka karyawan mendapatkan jatah 1 kilogram beras.


Inovasi yang dilakukannya dengan menjual beras dalam kemasan dengan sistem membeli lisensi merek tertentu dan dijual ke sejumlah pedagang yang ada di beberapa kecamatan di Lampung Selatan dan wilayah lain. Beras yang sudah dikemas dengan ukuran sekitar 25 kilogram perkarung menurutnya dijual sengan harga Rp195ribu. Ia mengaku sengaja tidak menjual beras kemasan tersebut ke wilayah luar Lampung karena harga beras di Serang Banten yang diketahuinya juga sama dikisaran Rp7.800 perkilogram.

"Saya juga pernah memiliki pabrik di Serang Banten dan harganya saat ini nyaris sama daripada menghabiskan biaya operasional untuk distribusi mending dijual di pasar lokal,"ungkap laki laki yang mengaku asli Serang Banten tersebut.

Dalam sepekan ia mengaku mengirim beras ke sejumlah pedagang beras dengan rata rata sebanyak 2 ton. Ia berharap dengan masa panen raya ini memberinya tambahan gabah untuk stok dan dijadikan bahan baku untuk beras kemasan yang akan dijualnya. Ia mengaku meski persaingan ketat dalam usaha penggilingan padi dirinya akan tetap bertahan dengan aset yang ada dan sebanyak tiga karyawan yang dimilikinya selain tetap memberdayakan petani lokal ia mengaku mengolah beras lokal untuk kebutuhan masyarakat sekitar.

"Saya menekuni bisnis penggilingan padi sekaligus jual beli beras sejak tujuh tahun lalu sempat prihatin dengan banyaknya beras dari luar daerah yang masuk ke Lampung padahal kualitas tetap sama,"ungkap Hanuri.


Ia mengaku salah satu kendala yang dihadapi penggilingan padi miliknya saat ini dengan kondisi cuaca dominan hujan. Akibatnya ia dan beberapa karyawan harus bolak balik menutup padi yang dijemur dengan sistem hamparan di halaman. Belum adanya tekhnologi pengeringan membuatnya masih menggunakan tekhnik penjemuran secara manual. Saat ini ia bahkan mengaku telah memiliki stok sekitar 10 ton gabah untuk digiling menjadi beras yang akan dijualnya ke sejumlah pasar tradisional. Ia mengaku pangsa pasar beras lokal masih terbuka luas meski kiriman beras dari luar daerah masih cukup banyak.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Henk Widi
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: