SABTU, 1 OKTOBER 2016

LAMPUNG --- Potensi alam air arus deras di wilayah Desa Sidomukti, Desa Bandar Agung Kecamatan Bandar Negeri Suoh Kabupaten Lampung Barat hingga kini masih terus dimanfaatkan ratusan kepala keluarga (KK) di wilayah tersebut terutama wilayah yang belum teraliri listrik PLN. 


Beberapa kepala keluarga bahkan menggunakan aliran air yang bersumber dari perbukitan dan tak pernah surut saat musim kemarau sekalipun menjadi sumber penggerak turbin untuk menciptakan arus listrik. Meski demikian bagi keluarga pra sejahtera yang tidak memiliki cukup biaya, penyediaan energi listrik dengan sistem membuat instalasi turbin tenaga air masih merupakan barang mewah, nyaris tak terwujud. Upaya yang dilakukan oleh warga Desa Sidomukti di Lampung Barat dilakukan dengan sistem patungan dan sistem berlangganan kepada pemilik instalasi listrik tenaga air atau Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) skala kecil.

Salah satu warga Sidomukti,Neman (40) yang mengaku tidak mampu menyediakan instalasi tenaga listrik menggunakan turbin bahkan sudah berlangganan dari salah satu tetangganya. Ia bahkan harus membayar sebesar Rp40ribu perbulan sebagai biaya untuk penggunaan listrik tenaga air yang disalurkan dari turbin yang berada jauh dari desanya dengan cara disalurkan melalui kabel kabel panjang. Penggunaan listrik yang dimanfaatkan warga seperti Neman diantaranya sebagai lampu penerangan dan menyalakan alat alat elektronik meski harus menyiapkan adaptor dan satabiliser untuk mencegah tegangan berubah sewaktu waktu. 

"Kita kan tahu energi listrik dari turbin tidak sama dengan energi listrik PLN maka alat yang disiapkan juga lebih banyak diantaranya stabiliser, adaptor karena arus air yang mengalir menngerakkan turbin juga mempengaruhi energi listrik" ungkap Neman saat dikonfirmasi Cendana News, Sabtu (1/10/2016).

Ia mengaku berharap secepatnya wilayah tersebut dapat dialiri aliran listrik PLN sehingga warga bisa beralih dari penggunaan energi listrik terbarukan dari air ke PLN. Selain itu tidak stabilnya arus listrik yang disalurkan ke warga berakibat beberapa peralatan eletronik masyarakat kerapa megalami kerusakan.'


Sementara itu pemilik instalasi listrik tenaga air, Subandi (34) mengaku membutuhkan biaya hampir Rp30-40 juta untuk membangun instalasi listrik tenaga air tersebut. Biaya dihitung dari mulai penyiapan turbin, biaya operasional pembelian kabel-kabel serta biaya perawatan. Biaya sekitar Rp60juta bahkan bisa dikeluarkan jika jarak antar rumah warga dengan lokasi aliran air berkilo kilometer yang artinya warga yang membuat instalasi harus menyiapkan kabel berukuran panjang hingga 6.000 meter.

Meski demikian Subandi mengaku kebutuhan listrik di wilayah tersebut harus dipenuhi terutama bagi masyarakat yang tinggal di beberapa perbukitan dan masih memiliki infrastruktur yang belum memadai. Air yang digunakan untuk energi listrik diakui Subandi berada di jarak sekitar 4 kilometer dan disalurkan melalui kanal (penstock) melewati kincir yang disiapkan lokasi khusus dimana air akan menabrak sudut-sudut yang menyebabkan kincir air ataupun turbin berputar. Meski menghasilkan tenaga listrik beberapa ratus volt, energi tersebut harus distabilkan dengan alat khusus.

"Alat-alat tersebutlah yang menjadikan biaya menjadi mahal dan membuat banyak orang yang belum memanfaatkan air untuk membuat turbin meski di sini baru ada sekitar 60 orang yang memiliki turbin dengan berbagai ukuran" ungkap Subandi.


Ia mengakui di wilayah tersebut pembangkit listrik tenaga air merupakan sumber listrik yang menghasilkan lebih 90% kebutuhan energi listriknya. Meski dalam skala kecil kontribusi aliran aliran air yang ada di wilayah tersebut telah mampu memenuhi kebutuhan listrik yang dikonversi dari aliran air selama bertahun tahun sejak tahun 2000.

Meski demikian ratusan warga berharap bisa mendapatkan pasokan listrik dari PLN karena cukup stabil meski ada kendala lokasi yang jaraknya cukup jauh dari gardu induk. Selain itu selama belum memperoleh energi listrik dari PLN warga menggunakan listrik tenaga surya dari pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang disalurkan melalui panel-panel surya. Mahalnya biaya pembuatan instalasi PLTS dan PLTA membuat warga tetap mendambakan adanya aliran listrik PLN menuju desa mereka.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: