RABU, 19 OKTOBER 2016

BERITA FOTO --- Industri kecil menengah terutama pembuat makanan tradisional masih menggunakan cara cara tradisional untuk mengolah produk pangan yang akan dijual sebagai oleh oleh khas. Salah satuya industri rumahan pembuatan kerupuk kemplang di Dusun Karanganyar Desa Klaten Kecamatan Penengahan yang telah memproduksi kerupuk kemplang berbahan baku tepung dan ikan yang berdiri sejak enam tahun lalu. Pengolahan yang masih menggunakan bahan bakar kayu bakar, arang kelapa serta diolah dengan cara manual didukung oleh puluhan perempuan yang berada di sekitar rumah sekaligus tempat industri rumahan kerupuk kemplag yang dimiliki oleh Sulistyono dan keluarganya.


Perempuan perempuan yang bekerja di industru kecil rumahan tersebut menjadi tenaga padat karya terutama ketika pemilik mendapat pesanan kerupuk kemplang yang merupakan oleh oleh khas Lampung dalam jumlah besar. Sebuah bangunan beratapkan genteng menjadi tempat pengolahan bahan baku dari mulai pengadonan, penjemuran, pemanggangan hingga proses pengemasan. Sebagian besar perempuan yang berjumlah sekitar 18-20 orang tersebut memiliki tugas yang berbeda beda diantaranya pada bagian pengadonan, perebusan bahan, penjemuran, pemanggangan hingga pengemasan. Sekitar 60-100 kilogram bahan baku tepung dengan bumbu bumbu khusus dan dominan rasa ikan diolah setiap hari.


Perempuan perempuan tersebut merupakan kaum ibu rumah tangga (IRT) yang juga memiliki pekerjaan di rumah masing masing, namun ketika kebutuhan akan tenaga kerja untuk memenuhi target pesanan, pemilik industri rumahan kerupuk kemplang membutuhkan tenaga kerja yang lebih. Bekerja dari jam 08:00 pagi hingga pukul 15:00 WIB para pekerja yang sebagian perempuan tersebut memulai pengolahan hingga proses pengemasan. Adonan yang dicetak menjadi lingkaran lingkaran akan dibakar dalam perapian berbahan bakar arang kayu atau arang batok kelapa setelah bahan kemplang tersebut dijemur beberapa hari sebelumnya. Meski berukuran diametar 10 centimeter setelah dibakar mengembang menjadi lebih besar dengan rasa yang renyah berkat tangan tangan terampil kaum perempuan di Desa Klaten tersebut.


Tangan tangan cekatan mengolah penganan khas Lampung yang dimakan dengan sambal tomat tersebut hingga selesai. Sebagian perempuan yang masih memiliki anak bahkan tetap mengajak anak anak untuk ikut bekerja diantara panasnya panggangan yang menggunakan anglo. Peluh dan panas tak dirasa saat sore hari para pekerja perempuan tersebut memperoleh lembaran puluhan ribu sebagai upah tenaga yang diperbantukan untuk melakukan pengolahan kerupuk kemplang. Belum adanya tekhnologi pengolahan untuk menghasilkan kerupuk kemplang dengan cara cepat membuat tenaga kerja perempuan masih menjadi pilihan sebagai tenaga kerja padat karya menghasilkan makanan tradisional yang digemari oleh masyarakat tersebut.


Aktifitas para pekerja perempuan dalam industri padat karya pembuatan makanan tradisional kemplang di Lampung tersebut terlihat dalam aktifitas yang didokumentasikan dalam lensa jurnalis Cendana News berikut:




Jurnalis : Henk Widi / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Henk Widi
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: