SELASA, 11 OKTOBER 2016

LAMPUNG --- Penunjang perekonomian pedesaan yang masih sangat vital dibutuhkan salah satunya faktor infrastruktur jalan. Salah satu upaya yang dilakukan masyarakat di wilayah Desa Merambung dan Desa Way Kalam Kecamatan Penengahan diantaranya dengan melakukan iuran dan swadaya pembangunan akses jalan menuju lahan pertanian yang mereka miliki. Menurut salah satu warga Desa Way Kalam, Amin (34) usulan terkait peningkatan status jalan di kawasan desa tersebut sudah dilakukan berpuluh puluh tahun lalu namun hingga kini kondisi jalanan berbatu masih belum mendapat sentuhan pembangunan seperti layaknya wilayah lain. Warga pun akhirnya secara swadaya melakukan pembuatan jalan dua jalur di lokasi titik tanjakan dan turunan untuk memudahkan petani, pekebun melakukan aktifitas harian menggunakan jalan tersebut.


Amin mengakui saat ini swadaya dilakukan untuk proses pembuatan jalan cor dua jalur dengan panjang sekitar 100 meter di titik yang sering digunakan masyarakat mengangkut hasil pertanian dan perkebunan. Ratusan warga di kampung yang berada di wilayah Gunung Rajabasa tersebut telah bertahun tahun  berharap jalan tersebut ditingkatkan kualitasnya dari jalan onderlagh (jalan batu) menjadi jalan aspal meski hingga saat ini belum mendapat realisasi. Padahal jalan tersebut merupakan salah satu akses menuju destinasi wisata air terjun Way Kalam dan hutan wisata Gunung Rajabasa.

"Langkah kami yang pertama daripada menunggu lama untuk realisasi pembangunan dengan membuat jalan secara swadaya menggunakan semen dengan dikerjakan secara gotong royong untuk memudahkan akses masyarakat yang akan melakukan aktifitas di kebun dan sekaligus jalan ini merupakan jalan untuk wisata,,"ungkap Amin saat dikonfirmasi Cendana News, di Desa Way Kalam,Selasa (11/10/2016).


Dua jalur jalan dengan panjang masing masing 60 centimeter pada kedua sisi dibuat untuk memudahkan kendaraan melintas terutama kendaraan ukuran sedang. Sementara untuk menghindari kendaraan berat melintas di lokasi jalan tersebut menghindari kerusakan jalan sebuah palang besi dipasang menjaga jalan yang dibangun masyarakat bertahan lama. Amin dan warga sekitar mengaku proses pembangunan yang dikerjakan oleh warga yang memiliki kebun dan lahan pertanian di jalur tersebut dikerjakan selama beberapa hari dengan sistem gotong royong dan warga yang tak sempat menyumbangkan tenaganya memberikan sumbangan dalam bentuk lain.

Swadaya pembangunan jalan tersebut menurut Amin ditarik dari warga saat masa panen kopi cokelat memiliki harga yang bagus dikisaran Rp45ribu dan harga cengkeh dikisaran Rp75ribu perkilogram sehingga hasil swadaya warga bisa dibelikan material berupa semen dan batu koral. Paska dibangun jalan baru sepanjang 100 meter warga berharap ke depan pembangunan jalan dengan kualitas lebih bagus dengan sistem rigid beton atau dengan aspal bisa dilakukan sebab selama ini masyarakat kerap mengalami kesulitan dengan kondisi jalan berbatu yang licin saat hujan.

Selain pembangunan jalan dua jalur tersebut, upaya mencegah terjadinya longsor di kedua sisi jalan warga melalukan proses pembuatan talud yang dbangun menggunakan batu batu gunung. Pembuatan talud selain menghindari longsor juga mencegah materrial tanah menimbun jalan rigid yang telah dibuat dan berimbas cepat rusaknya jalan seperti akses jalan yang pernah dibuat menuju lokasi tempat wisata air terjun Way Kalam.


Masyarakat menyayangkan upaya menjadikan kawasan tersebut sebagai kawasan wisata air terjun dengan hutan lindung Gunung Rajabasa yang gencar dipromosikan namun infrastrukur yang ada belum memadai. Selain masih berupa jalan berbatu kondisi jalan yang sempit membuat wisatawan tidak bisa mengakses jalan tersebut menggunakan kendaraan besar dan terpaksa menggunakan kendaraan roda dua meski dengan kondisi jalan berbatu. Jarak lokasi air terjun dengan perkampungan warga bahkan harus ditempuh dengan cara berjalan kaki sepanjang 3 kilometer dan haya bisa ditempuh menggunakan kendaraan roda dua.

"Kalau soal promosi wisata memang sangat gencar dilakukan karena destinasi wisata air terjun Way Kalam sudah dikenal luas tapi sayangnya akses jalan yang belum memadai inilah yang membuat orang enggan datang ke sini,"ungkapnya.

Meski masih sedikit wisatawan yang datang ke wilayah tersebut namun kondisi trek yang bagus dan lokasi yang masih sejuk dan asri membuat lokasi tersebut masih sering digunakan oleh pecinta alam, anggota Pramuka untuk melakukan aktifitas hiking dan jalur mencari jejak. Selain berada di dekat perkampungan warga lokasi pertanian dan perkebunan masyarakat yang didukung oleh akses jalan yang bagus diharapkan masyarakat akan memudahkan petani dan pekebun mendistribusikan hasil perkebunan yang mereka miliki.

"Kalau jalan rusak kami selama ini terpaksa mengeluarkan biaya ekstra untuk ongkos ojek ke lokasi yang mudah dijangkau kendaraan roda empat karena jalan yang rusak dan belum memadai membuat truk besar pun tidak bisa masuk,"keluh Amin.

Biaya untuk ojek pengangkutan hasil kebun dipatok sekitar Rp3ribu perkarung sementara jika kondisi bagus masyarakat petani di wilayah tersebut masih bisa menggunakan kendaraan roda empat jenis L300 dan lebih efesien tanpa membayar ongkos ojek. Meski telah dibangun dengan cara swadaya pada beberapa titik masyarakat berharap akses jalan tersebut bisa ditingkatkan kualitasnya menggunakan anggaran dari pemerintah daerah.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Henk Widi

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: