JUM'AT, 14 OKTOBER 2016

SOLO --- Oktober yang diperingati sebagai bulan bahasa diperingati oleh anak-anak penyandang cacat atau difabel yang ada di Solo, Jawa Tengah. Mereka yang tergabung dalam Yayasan Pembina Anak Cacat (YPAC) Solo menggelar lomba mendongeng bagi siswa Sekolah Dasar (SD) difabel. 


"Kegiatan ini untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat jika kita mempunyai bulan bahasa. Dengan bulan bahasa ini, diharapkan dapat digunakan untuk mengeksplor bahasa indonesia beserta keragamannya," ucap Fadilah salah satu penyelenggara Lomba Mendongeng bagi Anak Difabel di Solo, Jumat (14/1016). 

Alasan melibatkan anak-anak dengan keterbatasan fisik maupun mental itu dalam lomba mendongen adalah sebagai upaya memberikan suport kepada anak difabel agar juga merasa memiliki dan ikut senang adanya bulan bahasa. Selain itu, masyarakat juga diajarkan untuk tidak melihat seseorang hanya berdasarkan fisik saja. 

"Karena pada dasarnya setiap manusia dilahirkan mempunyai hak yang sama. Mereka mempunyai kemampuan masing-masing, sehingga jika ada keterbatasan tidak lantas ada diskriminasi," tegasnya. 

Ditekankan Fadilah, sebagai rakyat Indonesia mereka yang dilahirkan dengen keterbatasan harus dipandang sama dengan orang pada umumnya. Kaum difabel harus dipastikan mendpat perlakuan yang sama. Sebab, sejauh ini tidak sedikit masyarakat ataupun lembaga pemerintahan yang melakukan diskriminasi terhadap kaum difabel. 

"Yang perlu ditingkatkan adalah kesadaran bersama, bahwa Kmereka adalah sama dengan pada umumnya. Sehingga tidak ada lagi pembedaan atau diskriminasi," imbuhnya. 

Sementara itu, salah satu siswa SD YPAD Muhammad Rasyid mengaku senang dengan digelarnya lomba mendongeng tersebut. Meski belum lancar membaca, Rasyid berani tampil ke depan untuk membaca dongeng. 

"Senang, karena bisa membaca dongeng dengan teman-teman. Saya dongeng tentang bangau, tapi lupa critanya," ucapnya. 

Lomba Mendongen untuk anak-anak SD LB YPAC itu meruapakan salah satu program kerja mahasiswa Unisri Solo untuk memperingati bulan bahasa. Adapun tujuannya adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat agar bangga dengan bahasa. 

Jurnalis : Harun ALrosid / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Harun Alrosid
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: