MINGGU, 2 OKTOBER 2016

PONOROGO --- 1 Muharram atau 1 Suro dalam kalender Jawa diperingati berbeda oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo, yakni dengan menggelar larungan sesaji sebagai bentuk rasa syukur untuk sedekah bumi. Pelaksanaan larungan dipilih di Telaga Ngebel karena keadaan geografis Ponorogo yang tidak memiliki laut.


Meski rutin digelar setiap tahun, animo masyarakat untuk melihat budaya khas Ponorogo, larungan tetap menjadi pilihan utama. Hal ini terbukti meski diguyur hujan dengan intesitas sedang, ribuan masyarakat tetap memadati sekitar Telaga Ngebel.

Salah satu wisatawan asal Ponorogo, Indah Rahayu Ningsih menjelaskan, meski sudah sering berwisata ke Ngebel namun pesona saat larungan sesaji tetap menarik.

"Ngebel terkenal dengan suasananya yang sejuk dan banyak sentra kulinernya, jadi cocok. Apalagi ditambah dengan acara larungan, semakin menarik," ujarnya kepada Cendana News di lokasi, Minggu (2/10/2016).

Tak hanya warga asal Ponorogo saja yang tertarik dengan khasanah budaya larungan, Odita Valentine Sri Wandi Rahayu asal Tulungagung pun rela datang jauh-jauh untuk melihat prosesi larungan.

"Saya penasaran saja dengan larungan yang di Ponorogo, apakah sama dengan di Tulungagung ataukah beda," tukasnya.


Mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Solo ini mengaku senang meski harus rela berdesak-desakan dengan pengunjung lainnya. Dirinya bahkan berangkat dari Tulungagung sejak pukul 04.00 WIB.

"Meskipun hujan-hujanan tapi seru bisa melihat langsung prosesi larungan," pungkasnya. 
[Charolin Pebrianti]

Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: