RABU, 19 OKTOBER 2016

YOGYAKARTA --- Indonesia merupakan mesin ekonomi yang didukung oleh berbagai komoditas, termasuk populasi dengan jumlah signifikan yang tersebar di berbagai daerah. Namun, perkembangan ekonomi yang begitu besar belum merata. Salah satunya karena faktor distribusi dan konektivitas. 


Lebih dari 70 tahun kereta api Indonesia menjadi tulang punggung utama sistem transportasi darat di Indonesia, membawa lebih dari 200 Juta penumpang dan 30 Juta Ton Kargo setiap tahunnya. Namun demikian, kenyataan saat ini persebaran atau perkembangan ekonomi dan sosial di dalam negeri hingga kini belum juga merata.

Karenanya pengembangan infrastruktur kereta api sebagai salah satu upaya negara untuk meningkatkan jalur distribusi dan konektivitas berbagai daerah di dalam negeri, bahkan luar negeri di era global MEA menjadi penting. PT Kereta Api (KAI) sendiri saat ini sesuai Rencana Induk Perkereta-apian Nasional (RIPNAS) hingga tahun 2030 memastikan akan adanya peningkatan jaringan rel kereta api hingga dua kali lipat, dari 5.000 Kilometer menjadi 12.100 Kilometer. 

Demikian diungkapkan Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro, saat gelar Konferensi Asean Perusahaan Kereta Api (Asean Railways Ceo's Conference/ARCEO) Ke-38 di Yogyakarta, Rabu (19/10/2016). 

Edi mengatakan, pengembangan infrastruktur kereta api dilakukan tetap dengan memperhatikan efisiensi armada, emisi yang lebih rendah, penghematan biaya dan keamanan kereta api.

Untuk itu, kata Edi, PT KAI telah menjalin kerjasama dengan sebuah perusahaan industri digital pemasok berbagai peralatan, jasa dan solusi kereta api, pertambangan, kelautan dan pengeboran yang berpusat di Chichago, Illinois, Amerika Serikat, General Electric (GE) Transportation.

"GE adalah salah satu sponsor platinum Asean Railway CEO Conference dan telah mendukung perkereta-apian di Indonesia dan Asean", ujar Edi.

Sementara itu, Direktur GE Transportation, Asia Pasifik, Mohamed Butt, menyatakan, pihaknya telah berkomitmen mendukung perkembangan industri dan modernisasi armada PT KAI yang saat ini terdiri dari 350 lebih lokomotif bertenaga diesel dan diesel listrik dari GE.

"Memiliki lokomotif yang berfungsi baik, memang penting. Namun, digitalisasi kereta api akan menjadi kesempatan terbesar di abad industri saat ini. Perubahan besar akan terjadi bagi operator perkereta-apian yang mengambil langkah digitalisasi untuk hasil maksimal, efisiensi bahan bakar dan kecepatan untuk mengurangi emisi dan kegagalan operasi alat", pungkas Butt. 

Jurnalis : Koko Triarko / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Koko Triarko
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: