RABU, 12 OKTOBER 2016

PONOROGO --- Usai ditimpa banjir berkali-kali, tanaman para petani di Ponorogo seperti jagung, cabai dan tembakau banyak yang mati. Namun hingga saat ini, belum ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan hal tersebut dikeluhkan petani.


Petani mengaku rugi akibat cuaca yang tidak mendukung serta kiriman banjir dari dataran yang lebih tinggi. Kondisi geografis Ponorogo yang memiliki pegunungan dan dataran rendah berakibat saat musim hujan banyak air limpahan dari pegunungan turun ke dataran yang lebih rendah.

"Gagal panen akibat banjir tidak ada perhatian sama sekali dari pemerintah," ujar Mardi (40 tahun) warga Desa Bancar Kecamatan Bungkal Kabupaten Ponorogo kepada Cendana News, Rabu (12/10/2016).

Menurut petani yang menanam jagung ini lahan miliknya 800 meter persegi, Mardi menderita kerugian sebesar Rp 2 juta, meski diawal masa tanam.

"Jagung ini usianya baru satu bulan belum maksimal pertumbuhannya sudah diterjang banjir berkali-kali, alhasil banyak yang mati," jelasnya.

Selain Mardi, juga ada Partimah (70 tahun) warga Desa Kunti, Ponorogo yang merasakan kesedihan yang sama. Pasalnya jagung miliknya yang siap panen diterjang banjir hebat.

"Akhirnya banyak jagung milik saya yang tumbang dan rata dengan tanah," paparnya.

Kerugian pun ditaksir mencapai Rp 5 juta, dihitung sejak proses penanaman dan perawatan hingga saat ini. Partimah hanya mengaku pasrah dengan musibah yang dialaminya.

Ia pun berharap mendapatkan uluran tangan dari pemerintah, minimal benih jagung atau padi. "Saya berharap ada bantuan dari Pemkab, supaya kami para petani ada semangat lagi," harapnya. 
[Charolin Pebrianti]

Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: