KAMIS, 13 OKTOBER 2016

MAUMERE --- Pertanian memakai sistem tebas bakar di kabupaten Sikka sejak dahulu hingga saat ini masih dipertahankan. Usai panen, petani biasanya membiarkan batang dan ranting – ranting padi, jagung dan rerumputan di areal kebun.


Saat  memasuki musim tanam pepohonan yang tumbuh ditebang dan dibiarkan kering. Rerumputan dan daun dikumpulkan di beberapa bagian di areal kebun lalu dibakar. Selain itu pembakaran lahan juga dilakukan di padang rumput agar rumput yang baru tumbuh dipakai untuk makanan ternak.

Demikian disampaikan Carolus Winfridus Keupung Direktur Wahana Tani Mandiri saat ditemui Cendana News, Kamis (13/10/2016). Dikatakan Win sapaannya, pembakaran yang dilakukan kerap membuat berbagai pohon yang ada di dalam areal tersebut ikut terbakar.

“Pembakaran lahan kebun di Blidit desa Egon kecamatan Waigete awal Oktober 2015 lalu menyebabkan api merambat membakar kawasan hutan lindung yang berada di sekitarnya,” ujarnya.

Dengan pembakaran jelas Win, justru  menyebabkan pemborosan pelepasan unsur hara. Dicontohkannya, padi di lumbung yang dipersiapkan untuk makan selama setahun tetapi karena ada pesta maka habis dimakan seminggu.

Memang sistem pembakaran sambungnya, memberikan hasil panen yang  bagus tapi setelah itu hasilnya turun drastis karena lahan akan kering. Dinas Pertanian dan Kehutanann sering melarang masyarakat melakukan itu tapi tidak memberikan alasan kenapa hal ini tidak boleh dilakukan serta solusinya.

Saat ditanya apa solusinya, Win  tegas mengatakan merubah pola usaha tani. Hampir seluruh daerah di barat kabupaten Sikka seperti Lio, dipakai sistem tebas bakar. Petani harus diajarkan membuat terasering dan menanam tanaman Legun disana.

Dengan mengembangkan terasering beber mantan Ketua Walhi NTT ini, dapat disiapkan unsur hara yang cukup karena tanaman Legun di terasering akan memberikan kesuburan bagi tanaman.

Tanah dan rumput di terasering paparnya di sebar ke lahan dan dicangkul. Selain itu, pihaknya juga mengajarkan pemberihan pupuk hijau serta  mengumpulkan daun dan sisa tanaman di dalam tanah untuk dijadikan pupuk.

“ Kita tidak menganjurkan sistem tebas bakar karena selain proses pelepasan unsur haranya tinggi, juga akan membuat tanaman cepat kurus “ tegasnya,.

Hal senada juga dikeluhkan kepala bidang Pembianaan dan Perlindungan Hutan, Dinas Kehutanan kabupaten Sikka, B.Herry Siswandy, Shut yang ditemui Cendana News di kantornya, Kamis (13/10/2016).

Menurut Herry, pembakaran lahan kerap dilakukan masyarakat di Sikka dengan sistem tebas bakar, menebas tanaman rumput dan membakar karena merupakan cara yang termudah dalam membersihkan lahan.

“Pada saat petani membakar api merambat masuk ke kawasan hutan yang ada di sekitarnya sebab petani tidak mengawasinya. Kejadian ini yang selalu berlangsung di Sikka saat memasuki musim tanam,” tuturnya.


Dinas Kehutanan Sikka sebutnya selalu lakukan sosialisasi bahwa dengan tebas bakar tidak memberikan sistem pengelolaam tanah yang baik. Selain itu, pihaknya melakukan pencegahan dengan membuat sekat bakar di daerah yang rentan dan sedang terjadi kebakaran.
[Ebed De Rosary]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: