SABTU, 15 OKTOBER 2016

LAMPUNG --- Masyarakat yang berprofesi sebagai petani di Lampung masih memanfaatkan alat tangkap tradisional sebagai cara menangkap ikan yang ramah lingkungan. Kondisi wilayah yang penuh dengan rawa, aliran sungai dan areal persawahan masih menjadi lokasi yang menjanjikan untuk mecari ikan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga, ikan peliharaan serta saat hasil melimpah hasil tangkapan dijual dalam bentuk ikan asin air tawar yang dikeringkan. Salah satu petani di Desa Palas Pasemah, Ahmad (36) masih memanfaatkan ratusan bubu terbuat dari bambu sebagai alat tangkap ikan yang ramah lingkungan sekaligus cukup sederhana dalam proses pemasangannya. Ia mengaku bubu bambu merupakan satu jenis alat tangkap untuk perangkap ikan yang dibuat dari bambu. Profesi mencari ikan yang ditekuninya tersebut merupakan pekerjaan sampingan selain mengurus sawah di lahan pertanian yang ada di wilayah tersebut.


Ahmad mengungkapkan saat ini memiliki sekitar 150 bubu berukuran kecil dengan diameter sekitar 25 centimeter dengan panjang hampir 100 centimeter. Sementara bubu berukuran besar ia memiliki sebanyak 50 bubu dengan diameter sekitar 45 centimeter dan panjang 150 centimeter. Ratusan bubu tersebut sebagian dibuat olehnya sementara sebagian besar dibelinya di toko alat pancing dengan kisaran harga ukuran kecil sebesar Rp8ribu sementara ukuran sedang seharga Rp50ribu dan ukuran besar seharga Rp80ribu. Meski sebagian bubu terbuat dari anyaman rotan, kawat namun Ahmad masih menggunakan bubu jenis bambu karena lebih tahan lama sementara jenis kawat mudah berkarat dan cepat rusak.

"Saya menyempatkan waktu untuk menangkap ikan saat sore hari sementara saat siang menyiapkan bubu bubu yang akan dipasang di rawa karena sebagian bubu ada yang lubangnya rusak, baru sore hari mencari umpan sekaligus memasangnya di lokasi yang diperkirakan banyak ikan,"ungkap Ahmad saat ditemui Cendana News di rumahnya, Sabtu (15/10/2016).


Ahmad menjelaskan, menangkap ikan menggunakan bubu masih jamak dilakukan petani setempat. Bentuk bubu yang digunakan pun beragam diantaranya jenis bubu berbentuk panjang, persegi empat,lonjong dan setengah lingkaran. Cara penggunaan bubu terang laki laki dengan dua orang anak tersebut cukup dilakukan dengan meletakkannya di dasar sungai, aliran air menuju sawah, rawa rawa, danau ataupun kolam. Saat bubu dipasang lengkao dengan umpan maka ikan ikan yang telah masuk ke dalamnya maka ikan ikan tersebut akan kesulitan dalam mencari jalan keluar meskipun lubang untuk jalan keluar terbuka lebar.

Selain menggunakan bubu ia juga mengaku beberapa alat tangkap yang lain masih tetap digunakan. Lingkungan yang berada di sepanjang aliran sungai membuat masyarakat setempat memanfaatkan untuk mencari tambahan penghasilan untuk keluarga dengan cara menangkap ikan. Alat tangkap ikan yang masih digunakan diantaranya alat tangkap pancing tajur. Alat tangkap menggunakan alat tangkap pancing tajur dimiliki oleh Ahmad sebanyak 200 tajur. Tajur merupakan alat tangkap pancing dengan cara membiarkan pancing yang telah diberi umpan saat sore hari dan akan dilihat serta diambil saat pagi hari. Umpan yang digunakan sama dengan saat memasang bubu diantaranya jenis kodok, cacing atau usus ayam yang sengaja dipasang pada mulut bubu atau pancing pada tajur. 


Alat lain yang masih digunakan Ahmad dan petani lain di wilayah tersebut diantaranya Tangkul. Alat tangkap ikan jenis tangkul merupakan perangkap ikan tradisional yang terbuat dari beberapa bahan seperti jaring ikan dan batang bambu sebagai penopang jaring. Jenis bambu yang digunakan adalah bambu yang tahan lama dan kuat saat berada di dalam air dalam waktu cukup lama.

"Sebagian masyarakat menggunakan tangkul terutama yang tinggal di dekat aliran sungai karena mudah dan tangkul dipasang di belakang rumah serta bisa diangkat pada waktu waktu tertentu dengan harapan ikan masuk ke jaring,"ungkapnya.


Jaring yang digunakan dalam pembuatan tangkul biasanay berbentuk segi empat dimana pada setiap sudut jaring diikat pada bambu. Proses penggunaannya pun sederhana ungkap Ahmad dengan cara pemilik tangkul menenggelamkan bagian dari tangkul. Setelah beberapa jam tangkul bisa diangkat  dengan cara menarik tali yang telah terpasang di tangkul. Penggunaan tangkul untuk menangkap ikan terbilang cukup efektif untuk menangkap ikan di aliran sungai Way Pisang dan rawa rawa di sekitar Desa Palas Pasemah. 

Ia mengaku penggunaan alat alat tangkap diantaranya tajur, bubu bambu, tangkul masih digunakan meski sebagian petani atau masyarakat lain masih menggunakan jala, jaring, keramba apung, tombak ikan serta sistem "gaga" atau menggunakan tangan. Sementara sebagian masyarakat yang akan menangkap ikan dengan cepat ada yang menggunakan obat kimia atau racun ikan yang membuat mabok ikan yang akhirnya menepi dan mudah ditangkap.


"Pernah ada yang menggunakan jenis putas untuk meracun ikan namun karena akhirnya berbulan bulan tidak ada ikan yang hidup akibat benih ikan kecil ikut mati akhirnya dibuat aturan dilarang meracun ikan di wilayah tersebut,"ungkapnya.

Selain menggunakan alat alat tersebut sebagian masyarakat pencari ikan masih menggunakan alat setrum untuk mendapatkan ikan jenis udang dan ikan sepat. Hasil tangkapan ikan dari memasang bubu, kecak dan tajur yang sangat sederhana dan ramah lingkungan tersebut diantaranya ikan betik, ikan gabus, ikan wader, ikan sepat serta jenis ikan belut. Ikan ikan tersebut sebagian dikonsumsi untuk keluarga sementara jenis ikan kecil lainnya sengaja dijemur untuk dibuat ikan asin air tawar yang dijual dalam kondisi kering. Ikan asin air tawar yang sudah dikeringkan mampu bertahan selama dua bulan dan dijual dengan harga Rp30ribu-Rp45 ribu perkilogram. Sementara ikan jenis simbat diasap dan dijual dengan harga Rp80-Rp100ribu perkilogram. Sebuah cara tangkap sederhana dan ramah lingkungan yang mampu memberi penghasilan bagi petani.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Henk Widi


Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: