SENIN, 17 OKTOBER 2016

YOGYAKARTA --- Ratusan difabel di Kabupaten Sleman berduyun-duyun mendatangi Rumah Sakit Akademik Universitas Gajah Mada (RSA UGM) di Sleman, Senin (17/10/2016). Para difable itu datang untuk mengikuti pelayanan kesehatan gratis Jaminan Kesehatan Khusus (Jamkessus) Terpadu.

Pemeriksaan difabel
Pemeriksaan kesehatan Jamkessus disabilitas terpadu merupakan program Pemerintah Daerah DI Yogyakarta yang bertujuan untuk memfasilitasi para penyandang difabel yang tidak mampu agar bisa mengakses pelayanan fasilitas kesehatan (faskes).

"Program telah berjalan dua tahun, yang meliputi cek kesehatan media, pemberian alat bantu dan rehabilitasi sosiologi difabel," jelas Kepala Dinas Kesehatan DI Yogyakarta, Pembayun Setyaning Astutie, Senin (17/10/2016).

Pembayun menjelaskan, guna lebih meningkatkan pelayanan kesehatan bagi para difabel tidak mampu, ke depan Pemda DIY akan membuat Kartu Identitas Difabel yang ditargetkan selesai pada 2017 mendatang. Nantinya difabel yang memiliki kartu tersebut bisa mengakses pelayanan kesehatan secara gratis.

Pemda DIY, kata Pembayun, melalui Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2012 dan Peraturan Gubernur Nomor 51 Tahun 2013 berkewajiban menjamin pemenuhan hak disabilitas.

Sementara itu, berdasarkan data Dinas Kesehatan DI Yogyakarta terdapat 28.750 kaum difabel tak mampu dari total penduduk di Yogyakarta yang berjumlah 3,6 juta jiwa. Sedangkan selama 2016, Pemerintah menargetkan 1.500 penyandang difabel di Yogyakarta bisa mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis melalui program Jamkessus Disabilitas Terpadu.

Pemeriksaan gratis bagi kaum difabel digelar di empat Kabupaten dan satu Kota di DI Yogyakarta. Ada pun pemeriksaan gratis di Kabupaten Sleman diadakan di RSA UGM dan merupakan program yang ketiga kalinya di 2016 ini. Setidaknya, 250 difabel memanfaatkan pelayanan kesehatan gratis yang digelar dua hari ke depan.

Peserta Jamkessus
Salah satu difabel peserta program Jamkessus, Wiyono (63) dan istrinya Wijilah (61) mengaku sangat senang. Wiyono yang tak bisa berjalan normal sejak 3 tahun lalu karena tulang ekornya patah akibat terjatuh dari pohon mengaku sudah lama sekali tak bisa memeriksakan kesehatannya, terutama perkembangan tulang ekornya. Sedangkan istrinya juga hendak periksa kondisi kesehatan mata yang mulai berkurang daya penglihatannya.

"Saya sangat senang bisa periksa kesehatan. Saya berharap, bisa periksa kesehatan sewaktu-waktu dengan gratis tanpa harus menunggu ada acara seperti ini," pungkas Wiyono.

Jurnalis : Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Koko Triarko

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: