SABTU, 1 OKTOBER 2016

YOGYAKARTA --- Sejak lama Indonesia mengenal sebuah konsep Ekonomi Pancasila namun selama ini tak pernah di ketengahkan. Alih-alih mencoba menerapkannya, sistem perekonomian nasional saat ini justru dinilai semakin menuju kapitalisme.


Ekonomi Pancasila adalah sebuah sistem yang dikembangkan secara kekeluargaan, tidak semata berorientasi kepada kapitalisme, namun lebih mengutamakan sifat gotong-royong untuk mencapai kesejahteraan bersama. Dalam pelaksanaannya di masa lalu, Ekonomi Pancasila tereja-wantah dalam sebuah bentuk usaha bersama yang disebut koperasi.

Demikian dikatakan Rektor Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Henry Feriadi, saat ditemui usai gelar seminar bedah buku berjudul Batik Antiterorisme di Kampus setempat, Sabtu (1/10/2016).

Menurut Henry, saat ini Indonesia masih dalam masa transisi. Tidak sepenuhnya kapitalis dan juga tidak sepenuhnya Pancasila. Karena itu, katanya, ke depan bangsa ini harus segera menemukan sistem perekonomiannya sendiri yang bertumpu kepada nilai-nilai kearifan lokal bangsa sendiri, yang tidak lain adalah Ekonomi Pancasila.

Lebih jauh dijelaskan Henry, perlu segera ditemukan model perekonomian nasional yang menggabungkan semua potensi, mulai dari pertanian, industri, teknologi informasi dan komunikasi. Semua potensi yang ada harus dipertahankan dan disesuaikan menurut zamannya.

Program kemandirian bangsa, jelas Henry, harus didukung dan jika ingin negara ini maju, harus mau menggunakan produk dalam negeri sendiri. Korea yang merdeka di waktu yang hampir sama dengan kemerdekaan Indonesia  bisa lebih maju karena mencintai dan fanatik dengan produk bangsanya sendiri.

"Pancasila itu prinsip. Agar bisa berdampak harus dihidupkan, salah satu caranya dengan mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi semua masyarakat dengan membangun perekonomian yang sesuai dengan nilai-nilai kearifan dan kebudayaan bangsa sendiri," pungkasnya. 
[Koko Triarko] 
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: