SELASA, 11 OKTOBER 2016

BALI --- Walikota Bandung, Ridwan Kamil menyebut budaya gotong royong bisa menjadi populer di dunia. Syaratnya, kata dia, pemuda Indonesia sebagai pewaris sah masa depan mau menjadi garda terdepan mempromosikan budaya tersebut. Selama ini, Indonesia dikenal dan dipuji bangsa lain berkat budaya gotong royong. Sebagai budaya asli Indonesia yang unik, pria yang karib disapa Kang Emil itu optimistis gotong royong bisa mendunia.


"Budaya kita seperti gotong royong bisa menguasai dunia, sepanjang pemuda kita idealis memperjuangkan hal tersebut," ucap Kang Emil di sela World Culture Forum (WCF) di Nusa Dua, Bali, Selasa 11 Oktober 2016.

Gotong royong, kata dia, selama ini selalu menjadi buah bibir masyarakat internasional. Sebabnya, budaya tersebut mensyaratkan kerelaan dan keikhlasan tanpa pamrih apapun. Tidak ada pula tolok ukur uang bagi seseorang yang tengah mempraktikkannya.

Gotong royong, Emil melanjutkan, mewajibkan setiap orang yang terlibat di dalamnya memberi waktu luang, ruang dan pemikiran. ‎Tujuannya satu, yakni memberi solusi terhadap problematika sosial. Bagi dia, budaya gotong royong juga membuat masyarakat mandiri menyelesaikan masalahnya. 

"Kalau ada masalah langsung minta kepada pemerintah untuk menyelesaikannya, itu namanya pertanda masyarakat yang kurang baik," tutur Emil.

Ia mencontohkan di kota yang dipimpinnya, Bandung, Jawa Barat. Di Kota Kembang, budaya gotong royong berbasis wilayah dan karakter.‎ 

"Di Bandung ada 151 kelurahan dengan 151 karang taruna di dalamnya untuk meningkatkan budaya kreatif seperti gotong royong itu," papar dia.

‎Tak hanya Bandung, Kang Emil menyebut salah satu daerah yang tersohor di dunia karena budaya gotong royong adalah Bali.‎ Sebelum lembaga formal menyelesaikan problematika yang timbul di tengah masyarakat, warga Bali mencari solusi masalahnya secara bersama-sama di level terkecil. Biasanya melalui rapat-rapat di banjar-banjar.

Sementara itu, Director of UNESCO Office Jakarta, Shahbaz Khan menambahkan, Indonesia perlu melestarikan warisan budaya non benda (intangible cultural herritage) seperti budaya gotong royong, batik, upacara adat dan seni tari. Ini karena tekanan terhadap warisan budaya berupa benda semakin meningkat, sehingga perlu diseimbangkan.

"Oleh sebabnya kami terus mendorong terciptanya creative city network, seperti Bandung yang sangat unggul di bidang ini," ucap dia.

Menurut dia, kebudayaan asli masyarakat patut mendapat penghormatan tersendiri, sama seperti halnya kita menghormati Hak Asasi Manusia (HAM).
[Bobby Andalan]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: