SELASA, 4 OKTOBER 2016

BANDUNG --- Untuk memperkenalkan kembali sistem penanggalan Sunda kepada generasi muda, Komunitas Kabuyutan Sunda membagikan ratusan kalender Sunda. Kegiatan ini bertepatan dengan Mapag Perayaan Tahun Baru Sunda, 1 Sura 1950 Saka Sunda di Lembang Kabupaten Bandung Barat.


Menurut Ketua Komunitas Sunda Kemanusiaan Dasar Kaula (Kamandaka), Gagan Sukamara mengatakan, sejak dahulu sejumlah orang tua sudah menggunakan penanggalan kalender Sunda. Biasanya untuk menentukan hari baik suatu acara syukuran atau pernikahan.

"Tahun barunya jatuh pada 4 Oktober 2016, dalam merayakan tahun baru Sunda ini, kita mengadakan sejumlah kegiatan kesundaan seperti pementasan degung, kacapian, calung, pagelaran wayang dan pembagian kalender Sunda,"katanya, Selasa (4/10/2016).

Gagan menyebut, saat ini sistem penanggalan Sunda sudah mulai dilupakan. Bahkan banyak orang Sunda sendiri yang tidak mengetahui adanya sistem penanggalan ini.

Gagan juga menyebut, kalender Sunda sama dengan kalendar lain pada umumnya. Seperti, kalender Masehi atau Kalender Cina.

Sistem penanggalan Sunda pun terdiri dari 12 bulan antara lain Srawana, Badra, Asuyi, Kartika, Margasira, Pasa, Maga, Palguna, Setra, Wekasa, Jyesta dan Asadha.

Namun dalam setiap bulannya kalender Sunda tidak ada yang memiliki tanggal di atas 30 hari atau jumlah hari dalam bulan kalender Sunda hanya sampai 30 atau 29 hari.

Selain itu, dalam sistem penanggalan Sunda, pergantian hari dan tanggalnya bukan pada malam hari seperti pada kalender Masehi tapi pergantian hari terjadi pada petang hari atau sekitar pukul 18.00 WIB.

"Untuk memudahkan penggunaannya, pada kalender itu dicetak pula tanggal Masehi dan Hijriah. Pada intinya, kami ingin mengenalkan bahwa di Sunda pun punya perhitungan kalender yang akurat, "bebernya.

Saat ini kata dia, meski dibilang langka, namun ada beberapa kalangan tertentu yang masih menggunakan sistem penanggalan Sunda. Untuk itu pihaknya mengaku berupaya mengenalkan kalender Sunda kepada masyarakat.

"Kami ingin mengenalkan kembali sistem perhitungan Kami ingin mengenalkan kembali sistem perhitungan Sunda kepada masyarakat. Apalagi kalender tersebut sudah diakui kalangan akademisi dan jadi patokan masyarakat dalam melaksanakan hari baik, "jelasnya.
[Rianto Nudiansyah]

Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: