SABTU, 8 OKTOBER 2016

LAMPUNG --- Lesunya sektor usaha pertambakan di wilayah pesisir Kabupaten Lampung Selatan mulai terlihat selama beberapa bulan terakhir. Kondisi usaha pertambakan di sejumlah sentra tambak diantaranya Kecamatan Ketapang, Kecamatan Sragi dan Kecamatan Kalianda bahkan sebagian sudah tidak dioperasikan. Menurut salah satu pemilik tambak, Sopian (39) warga Desa Bandaragung Kecamatan Sragi, hanya pemodal pemodal besar yang siap berspekulasi saja yang masih mengoperasikan tambaknya sementara petambak petambak kecil masih mengosongkan tambak yang mereka miliki dengan alasan keterbatasan modal dan cuaca ekstrem yang kerap melanda sebagian wilayah tersebut. Kondisi tersebut masih ditambah dengan ketatnya izin usaha yang saat ini mulai diperketat mulai dari izin lingkungan serta izin izin yang lain yang harus disertakan.


Sopian mengaku salah satu dampak cuaca ekstrem tersebut diantaranya hujan yang terus menerus berakibat luapan sungai yang bahkan mengakibatkan tambak meluap. Sopian yang memiliki sebanyak 8 petak tambak terpaksa memelihara udang di beberapa petak yang lokasinya jauh dari tanggul sungai dengan harapan saat hujan besar dan terjadi luapan sungai Way Sekampung dirinya masih bisa memfungsikan sebanyak 4 petak tambak miliknya. Selain faktor hujan yang mempengaruhi usaha pertambakan, curah hujan yang tinggi berakibat air tambak mengganggu pertumbuhan udang yang dibudidayakan.

"Selama ini petambak tradisional seperti kami mengandalkan budidaya udang, ikan bandeng serta jenis ikan lain di lahan tambak yang mereka miliki dan faktor cuaca dipastikan menganggu usaha milik kami,"ungkap Sopian saat dikonfirmasi media Cendana News, Sabtu (8/10/2016).


Ia mengungkapkan keterbatasan modal mempengaruhi petambak tradisional karena tidak memiliki cukup modal untuk menyediakan mesin mesin pompa pribadi seperti yang dimiliki petambak petambak besar. Akibatnya saat air sungai meluap tambak yang tergenang air limpasan dan banjir rob dari perairan pantai Timur Lampung tidak bisa dibuang. Sementara pemilik tambak besar memiliki alat penyedot dan mesin pompa ditambah saluran khusus untuk pembuangan air saat cuaca hujan melanda tambak yang mereka miliki.

Sopian mengaku masih beruntung masih bisa mengoperasikan usaha budidaya tambak yang dimilikinya. Sementara beberapa petambak tradisional lain terpaksa gulung tikar dan sebagian beralih profesi menjadi tukang ojek dan sebagian menjadi buruh bangunan serta pekerja konstruksi jalan tol Trans Sumatera (JTTS). Seperti dialami oleh Sodikin (40), Mualim (34) serta beberapa warga Bandaragung yang terpaksa berlaih profesi menjadi pekerja bangunan merakit besi besi untuk tiabng pancang pembuatan jalan layang di proyek JTTS. Mereka sebelumnya merupakan para pemilik tambak yang membudidayakan ikan bandeng serta udang namun pukulan terhadap bisnis pertambakan akibat cuaca membuat mereka beralih profesi.

"Saya sudah hampir lima bulan diajak kawan setelah ada proyek tol karena sejak tambak tak bisa digunakan untuk budidaya kami harus tetap menafkahi keluarga dan beruntung kerja proyek dibayar harian,"ungkap Sodikin.

Ia juga mengaku belum ada rencana mengaktifkan kembali tambak yang dimilikinya dan kini dibiarkan menjadi kolam kolam biasa tanpa ditebar bibit udang atau bandeng dalam jumlah banyak. Hingga kondisi cuaca membaik dirinya mengaku masih tetap akan bekerja di proyek tol dengan tetap berharap memiliki modal cukup untuk usaha sektor pertambakan. Harga bibit yang mahal, biaya operasional tinggi serta harga yang kerap anjlok belum lagi faktor cuaca yang tak menentu membuat Sodikin masih berpikir ulang untuk kembali berusaha menjadi petambak.

Usaha pertambakan berdasarkan pantauan Cendana News masih dioperasikan dan dilakukan oleh beberapa pengusaha dan juga petambak yang mendapat bantuan dan pendampingan dari pemerintah. Sementara itu sebagian tambak dibiarkan terlantar tanpa ada aktifitas budidaya.  Program pemerintah Kabupaten Lampung Selatan untuk menjadikan kawasan Kecamatan Ketapang menjadi kawasan minapolitan terus dilakukan. Program pembangunan yang sedang dikerjakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Lampung Selatan yaitu membuat demonstration farm (demfarm) di Desa Berundung Kecamatan Ketapang. Pembangunan denfarm merupakan bantuan dari pemerintah pusat berupa beberapa fasilitas bagi kelompok petambak. 

Menurut kepala Dinas Kelautan dan Perikanan  Lamsel Meizar langkah revitalisasi tambak dilakukan karena Ketapang pernah menjadi sentra budidaya udang. Namun karena berbagai faktor beberapa petambak merugi dan mengganti lahannya menjadi lahan persawahan, perkebunan kelapa sawit.

Menurut Meizar  tambak percontohan di Ketapang akan menerapkan Good Aquaculture Practices (GAP) atau Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) dalam budidaya udang.

“Kondisi ini akan mendorong peningkatan produksi dan produktivitas lahan tambak yang ada,” katanya.

Animo masyarakat untuk terjun kembali berbudidaya udang juga akan meningkat sehingga dapat menjadi pendorong pengembangan kawasan budidaya udang baru disekitarnya.

"Program pemerintah pusat tersebut dilakukan dengan menyediakan sarana dan prasarana. Akhirnya di Desa Berundung kita menyiapkan lahan seluas 10 hektar dan akan dikelola oleh kelompok petambak, " terang Meizar.

Tambak percontohan yang telah direhabilitasi  di Desa berundung ujar Meizar seluas 10 hektar. Lahan tambak ini dibagi menjadi 20 petak dengan luas sekitar 5.000 m2 tiap tambak. 

Sementara Menurut Khumaidi yang berada di lokasi pembuatan demfarm sekaligus ketua Kelompok Berkah Windu mengatakan sebelumnya beberapa petak tambak udang ini mangkrak sementara sebagian lainnya dibudidayakan udang windu secara tradisional. Tebaran udang windu rata-rata sekitar 10 ribu ekor/ha. Setelah empat bulan pemeliharaan, windu dipanen pada ukuran 30 ekor/kg sebanyak 2 kuintal/ha.

Khamidi mengakui kondisi cuaca saat ini cukup mempengaruhi usaha tambak yang dikelolanya. Meski demikian ia mengaku dengan peralatan yang cukup baik diantaranya kincir air dan obat obatan tertentu maka usaha tambak yang dikelolanya masih berjalan dengan baik.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Henk Widi 

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: