MINGGU, 9 OKTOBER 2016

CATATAN JURNALIS --- Di usianya ke-260 tahun, Kota Yogyakarta terus berbenah, melakukan aksi dan evaluasi guna mewujudkan keistimewaan Yogyakarta, yang salah satunya dilakukan melalui berbagai kegiatan seni dan budaya. Maka, hampir setiap hari di Kota Yogyakarta selalu ada kegiatan seni. Namun, masyarakat kini mulai bertanya, apa dampak riil dari begitu banyaknya kegiatan seni dan budaya itu bagi masyarakat?



Sejak ditetapkannya Undang-undang Keistimewaan DIY, beragam potensi budaya lokal semakin masif dikembangkan. Menurut Kepala Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta, Umar Priyono, lebih dari 600 kegiatan festival seni budaya dan 400 lebih upacara adat ada di Kota Yogyakarta. Banyaknya even budaya itu merupakan salah satu upaya mewujudkan Jogja Istimewa menuju Jogja Renaisance.

Dalam sebuah kesempatan wawancara di ruang kerjanya, Umar menjelaskan, dalam upaya mewujudkan Kesitimewaan Yogyakarta menuju Jogja Renaisance yang diistilahkan dalam bahasa Jawa sebagai Jogja Gumregah itu, ada konsep sinergi yang dilakukan. Konsep itu disebut 3K, yaitu Keraton, Kampus dan Kampung.

Sementara itu, Jogja Gumregah atau Jogja Renaisance yang menjadi misi besar Keistimewaan Yogyakarta meliputi bidang pendidikan, pariwisata, teknologi, ekonomi, energi, pangan, kesehatan, keterlindungan warga, tata ruang dan lingkungan.

"Muara atau tujuan dari Jogja Gumregah adalah meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang merupakan amanat Undang-undang Keistimewaan DIY", ujarnya.

Menurut Umar, banyaknya even seni dan budaya itu justru merupakan bukti meningkatnya kepedulian, animo dan partisipasi masyarakat terhadap seni dan budaya. Juga menunjukkan kegiatan-kegiatan tersebut bermanfaat dan berdampak ekonomi atau mampu menggerakkan perekonomian di tengah masyarakat, yang diakuinya memang tidak mudah jika harus dikualitatifkan.


Umar mencoba menjelaskan dengan memberikan contoh kecil, dampak riil dari banyaknya kegiatan seni dan budaya bagi kesejahteraan masyarakat salah satunya bisa dilihat dari meningkatnya order jasa penyewaan maupun pembuatan kostum untuk keperluan karnaval, juga semakin merebaknya beragam bisnis kreatif atau ikonik lokal seperti bakpia dan sebagainya.

"Kebudayaan itu memang harus mampu menjadi mesin ekonomi (economic engine). Kalau tidak, akan menjadi percuma dan pemborosan saja", tegasnya.

Kecuali itu, lanjut Umar, indeks kehidupan suatu bangsa yang baik adalah bangsa yang menghargai budayanya. Di era global ketika Indonesia juga merupakan bagian dari Komunitas Asean, kebudayaan harus dikuatkan. Tanpa budaya yang kuat, kata Umar, Yogyakarta bisa dalam bahaya dan bisa hilang dari peta.

Sayangnya, kata Umar, selama ini setiap berbicara mengenai Asean selalu hanya soal ekonomi. Padahal, Komunitas Asean itu meliputi tiga hal penting, yaitu ekonomi, ketahanan dan sosial budaya. 

"Kalau Yogyakarta tidak kuat dari aspek seni dan budaya, Yogyakarta bisa hilang dari peta karena kotanya yang kecil. Jika bangsa ini kuat dari aspek kebudayaan, bangsa ini juga akan mampu bersaing di era global. Kebudayaan saat ini menjadi soft diplomasi dan brand marketing yang sangat kuat", tegasnya.

Namun demikian di sisi lain, di tengah gencarnya aksi kebudayaan memang masih terjadi kasus-kasus intoleransi dalam kehidupan beragama. Kendati berbagai kegiatan seni dan budaya memang tak bisa langsung mereduksi intoleransi tersebut, kata Umar, namun kegiatan seni budaya melibatkan lintas agama juga bisa berjalan dengan baik. Ini menunjukkan, bahwa perbedaan agama itu sebenarnya bukan masalah. Apalagi, di Yogyakarta yang memang sejak dulu terbiasa dengan multikultur.

"Saya yakin, melalui seni dan budaya ini negara bisa maju. Dan, kalau ada pihak yang mampu merubah dan memajukan bangsa itu adalah pemuda, perempuan dan masyarakat (youth, women, netizen)", pungkasnya.

Jurnalis : Koko Triarko / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Koko Triarko

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: