JUM'AT, 7 OKTOBER 2016

MAUMERE --- Herman Jumat Masan terpidana mati masih mempunyai hak hukum mengajukan Peninjauan Kembali dan Grasi.Sepanjang 2 hak ini belum dipergunakan tidak mungkin dilakukan eksekusi mati. Keputusan eksekusi mati ada di Jaksa Agung dan atas persetujuan presiden bukan di Kejari atau Kejati.


Demikian disampaikan Roy Rening SH, MH pengacara Herman Jumat yang tergabung dalam tim Advokasi Penghapusan Hukuman Mati (APHM) di Indonesia kepada media di Rutan Maumere, Kamis (6/10/2016).

Dikatakan Roy, informasi yang beredar di masyarakat dengan pemberitaan bahwa akan ada eksekusi mati bagi Herman Jumat dan Gaudensius Resing seorang terpidana lainnya kasus pembunuhan berantai di Kabupaten Sikka, itu tidak benar.

“Dengan adanya konferensi pers ini kami harapkan media memberitakan sehingga isu yang berkembang di masyarakat tentang dua terpidana ini akan segera dieksekusi bisa diketahui masyarakat sebab isu tersebut tidak benar,” ujarnya.


Penijnauan kembali dikerjakan oleh tim dimana ada tim investigasi,tim novum,tim penyusun memori PK dan kami juga akan membuat seminar terkait PK sehingga memberikan pelajaran bagi masyarakat.

“Melihat jadwal yang sudah dibuat kemungkinan bulan Juni atau Juli tahun 2017  sudah bisa diajukan PK karena kami juga membawa orang yang mendukung PK ini,” terangnya.

Pengajuan PK  yang lama terjadi kata Roy bukan hanya untuk menunda eksekusi mati tapi hanya melakukan rekonstruksi ulang terhadap fakta hukum inii. Apakah benar Herman pembunuh atau bukan pembunuh ataukan dia hanya jadi korban sebuah sistem peradilan pidana yang tidak benar.

Banyak orang yang dihukum mati karena sejak awal tidak mendapatkan pendampingan hukum dengan baik. Atau orang dihukum mati karena opini publik, orang marah setengah mati ,tidak bisa dibedakan  kejahatan moral dan kejahatan pidana.

“Kalau ada perbuatan yang salah secara moral itu pertanggungjawaban dia secara moral tapi apakah dia melakukan pembunuhan atau tidak itu yang coba kami lakukan rekonstruksi,” ungkapnya.

Ini yang harus disampaikan ke masyarakat, sebab selama ini Herman kalah pemberitaan, kalah opini karena tidak  ada tim yang mem-back up secara maksimal. 

“Saya tidak bisa menyalahkan teman-teman yang sudah mendampingi beliau. Situasi yang membuat mereka tidak bisa keluar dari  situ. Setuju tidak setuju itu suasananya, under pressure saat itu sangat luar biasa dan saya kira teman-teman media pasti  tahu. Tugas kami melakukan rekonstruksi ulang apakah ada perbuatan pidana dan ini yang akan coba dibangun dalam memori PK nantinya,” pungkasnya.

Jurnalis : Ebed De Rosary / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Ebed De Rosary
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: