SELASA, 18 OKTOBER 2016

SOLO ---  Harga komoditi jenis cabai di pasar tradisional di Solo, Jawa Tengah,  akhir-akhir ini melonjak tajam.  Hampir semua jenis cabai di pasaran mengalami kenaikan harga, mulai dari naik empat ribu hingga mencapai puluhan ribu rupiah per kilogramnya.


Nanik  (45), salah satu pedagang cabai di Pasar Legi, Solo mengatakan, kenaikan harga cabai ini  sudah berlangsung hampir selama dua pekan. Kenaikan harga di semua jenis cabai ini ditengarai karena stok cabai di pasaran sangat terbatas.  “Kemungkinan besar naiknya cabai ini karena musim yang tak menentu, sehingga membuat penen petani cabai tidak maksimal,” katanya kepada Cendana News, Selasa (18/10/16).

Minimnya stok cabai berimbas pada tingginya harga cabai di pasaran.  Kondisi itu juga berdampak pada kemampuan pelanggan untuk membeli cabai.  Pelanggan yang biasa membeli dalam jumlah banyak terpaksa mengurangi quota cabai, agar tetap bisa menjalankan usaha yang menggunakan bahan pendukung cabai. “Biasanya satu pedagang bisa membeli cabai sampai 20 kilogram, tapi harga tinggi ini maksimal beli 5 kilogram,” ucap Nanik. 


Adapun harga cabai yang mengalami kenaikan diantaranya, cabai merah besar  yang semula Rp 42 ribu naik menjadi Rp 46 ribu per kilogram, cabai rawit merah dari Rp 18 ribu -20 ribu saat ini mencapai Rp 32 ribu,  cabai rawit hijau dari Rp 7 ribu menjadi Rp 12 ribu, cabai kriting merah dari Rp 40 ribu menjadi  Rp 48  ribu. ”Hnya  cabai hijau sayur yang mengalami turun harga, yang semula dari Rp 15 ribu justru turun menjadi Rp 12 ribu per kilogramnya,” imbuhnya.  

Kenaikan harga cabai yang sangat tajam ini membuat pelanggan juga harus pandai mensiasati. Salah satunya dengan cara mencampur cabai antara cabai merah dan hijau untuk menutup operasional yang terlalu tinggi. “Kalau tidak dicampur tidak bisa memenuhi kebutuhan. Harga tinggi juga harus berhemat,” ujar salah pembeli Dwi Susanto. 

Menurut pria yang berprofesi sebagai pedagang baso itu, tingginya harga cabai juga berpengaruh dengan usahanya. Sebab, tanda adanya cabai, dagangannya juga tidak laku dijual karena sebagian besar pelanggannya gemar menggunakan sambal. “Ya harus dihemat, kalau tidak justru usaha bisa mati,” pungkasnya. 

Jurnalis : Harun Alrosid / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Harun Alrosid
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: