SABTU, 8 OKTOBER 2016

SUMENEP --- Musim garam pada tahun 2016 ini merupakan musim yang paling buruk bagi petani garam di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Pasalnya dengan kondisi kemarau basah, membuat jangka waktu produksi garam menjadi pendek, sehingga harapan para petani untuk mendapatkan keuntungan yang menjanjikan jauh dari harapan, akibatnya mereka kebingungan dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dalam sehari-hari.


Pada musim kali ini para petani hanya bisa memproduksi garam sebanyak 8 -10 kali, karena musim kemarau hanya berjalan satu bulan. Tak jatang para petani mengeluh dengan kondisi cuaca yang sangat tidak bersahabat, karena bagi mereka memproduksi garam merupakan mata pencaharian musiman yang seringkali diandalkan guna bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

“Pada musim kali ini merupakan musim terburuk bagi petani garam di daerah ini, karena petani hanya memproduksi garam dalam waktu sebentar. Padahal ini merupakan mata pencaharian bagi bagi masyarakat yang ada di daerah ini, makanya dengan kondisi saat ini kami merasa kebingungan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga,” kata Syamsuri (30), salah seorang petani garam asal Desa Karang Anyar, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep, Sabtu (8/10/2016).


Disebutkan, bahwa selain kondisi cuaca yang tidak memungkinkan, harga garam saat ini juga tidak berpihak kepada petani, karena harga tersebut sangat rendah, sehingga itu menambah lengkap penderitaan para petani. Memang kondisi sama juga pernah terjadi pada tahun 2011 lalu, dimana musim kemarau waktu itu sangat pendek, tetapi pada tahun berikutnya harga garam naik menjadi Rp. 1.000.000 per tons. Sehingga kerugian yang dialami pada saat musim kemarau pendek tersebut dapat tertutupi.

“Namun untuk musim kali ini harga garam rendah, jadinya petani merugi. Tetapi petani kan tidak memiliki pilihan lain, sehingga dengan terpaksa mereka tetap menjual garamnya dengan harga rendah agar bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya,” jelasnya.

Sekedar diketahui bahawa harga garam rakyat hingga saat ini masih belum ada perubahan dari sebelumnya, yaitu untuk KW 1 harganya hanya Rp. 500 per Kilo gram dan KW 2 harganya sebesar Rp. 450 per Kilo gram. 

Jurnalis : M. Fahrul / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : M. Fahrul

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: