SABTU, 1 OKTOBER 2016

LAMPUNG --- Tradisi malam 1 Suro dalam penanggalan Jawa ataupun dalam penanggalan Islam sebagai tahun baru Hijriyah ataupun malam 1 Muharram tetap terjaga hingga kini. Nilai-nilai kebersamaan dan toleransi di wilayah pedesaan, khususnya di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan terasa sangat kental meski berbeda suku, agama dan golongan. 


Gelaran atau masih disebut tradisi ini sudah mulai sejak puluhan tahun silam dan sudah berlangsung dari generasi ke generasi hingga Desa Pasuruan memasuki usia ke-59. Bagi para anak anak khususnya yang duduk di bangku Sekolah Dasar hingga tradisi ini menjadi acara tahunan yang sangat ditunggu.  Seperti yang terjadi pada Sabtu malam (1/10/2016), sejak senja hari kesibukan sudah mulai terasa di setiap rumah terutama kaum wanita. Rutinitas tahunan yang dilakukan diantaranya menyiapkan hidangan yang akan dibawa dan dibawa setelah maghrib di tempat yang sudah biasa menjadi titik sentral kegiatan tersebut di Dusun Sumbersari yakni di pertigaan jalan.

Para ibu ibu pada sore hari mulai memasak dengan hidangan berbagai jenis. Semuanya dijamin sangat enak untuk lidah warga di pedesaan terutama anak anak yang pasti akan sangat antusias menyambut datangnya kegiatan ini. Nampan yang terbuat dari rangkaian pelepah pisang menjadi ciri khas dengan wadah wadah daun pisang yang dibuat menyerupai mangkok untuk meletakkan makanan yang biasanya memiliki menu: nasi, lauk pauk lengkap dengan kerupuk berbagai jenis.

Kepala Dusun Sumbersari, Haji Nasrulloh mengungkapkan, tradisi memperingati Tahun Baru Islam 1438 Hijriyah atau tahun 2016 Masehi merupakan kegiatan rutin yang sudah diumumkan kepada ratusan kepala keluarga (KK) yang tinggal di wilayah tersebut. Ia bahkan mengungkapkan berbagai persiapan dilakukan diantaranya dengan bersih bersih pada siang menjelang kegiatan berlangsung oleh seluruh masyarakat terutama di lokasi yang akan digunakan untuk kegiatan takiran (makan bersama).

“Kami menyebutnya acara takiran atau tepatnya makan bersama dengan cara membawa makanan di rumah dan didoakan oleh masing masing pemuka agama di sini tanpa kecuali, kemudian makan bersama di tempat ini juga,”ungkap kepala dusun Sumbersari Haji Nasrulloh kepada Cendana News, Sabtu (1/10/2016).

Acara biasanya dimulai sesudah maghrib di pertigaan jalan yang menghubungkan Dusun dari arah Timur ke Barat dan Selatan ke Utara sudah berkumpul ratusan warga. Tua muda, anak anak berdatangan dengan membawa nampan dari pelepah pisang, plastik atau berbagai wadah lain lengkap dengan makanan yang tersaji. Anak anak berbaur dengan remaja dan orangtua mengelilingi takiran yang panjangnya bisa mencapai ratusan meter jika dijajar menjadi satu barisan.


Oleh banyak warga dari generasi ke generasi acara ini dinamakan “Takiran” dan dikenal sebagai malam tahun baru untuk mendoakan keselamatan seluruh kampung dengan bersyukur atas masa setahun yang telah lewat dan berharap tahun yang akan datang lebih baik. Namun apapun istilahnya terlihat kebahagiaan terpancar dari wajah wajah anak anak yang ada di Dusun Sumbersari. Sebelum acara dimulai anak anak akan bermain di bawah temaram lampu jalan yang menerangi tempat akan dilangsungkannya acara.

Sesuai tradisi tersebut sekaligus ungkapan syukur ditandai dengan setiap keluarga yang datang biasanya membawa porsi makanan sesuai jumlah keluarga yang ada di masing masing rumah tangga meski terkadang warga juga memberi lebih untuk dibawa pulang keluarga yang lain. Tradisi ini menurut Haji Nasruloh meski kental dengan nuansa Islami dan memang demikian namun kentalnya tradisi Jawa menjadikan tradisi ini tetap lestari. Bahkan dalam pengalaman dari tahun ke tahun simbol simbol tersebut menjadi lebur karena kebersamaan, silaturahmi dan menyatunya perbedaan di desa tersebut. Perbedaan dalam hal suku diantaranya dengan menyatunya suku Jawa, Sunda, Lampung, serta suku suku lain di dusun tersebut.

Kebersamaan serta melestarikan tradisi dari berbagai generasi untuk menjalin silaturahmi membuat acara ini tak lekang oleh waktu dan tak tergerus oleh modernisasi. Bahkan generasi yang ada di perantauan selalu merindukan saat saat seperti ini.

Setelah ratusan warga berkumpul maka hidangan yang diletakkan di jalan dengan arah Barat-Timur, Selatan-Utara tersebut dikelilingi oleh warga. Tetua kampung atau kepala dusun sebelumnya akan memberikan kesempatan untuk memimpin doa yang dilantunkan menurut agama yang dianut oleh warga. Sebuah pluralisme yang masih saling menghormati satu sama lain. Bahkan kondisi tersebut tersimbolkan dalam bangunan Masjid dan Gereja di Dusun Sumbersari berdiri berhadapan simbol toleransi.

Doa pertama dimulai dari pemuka agama Islam dan selanjutnya pemuka agama Kristen Katolik. Inti doa kurang lebih sama memohon keselamatan dan tak lupa bersyukur atas panen, rejeki, serta kebersamaan di Dusun kami  di tahun tahun yang sudah lewat dan memohon keselamatan untuk waktu mendatang yang akan dijalani.


Setelah doa dari masing masing agama selanjutnya tetua kampung akan memberi pengarahan dan inilah waktu yang ditunggu. Setiap orang per kepala dipersilakan mengambil makanan yang dibawa oleh seluruh warga. Diperkenankan mengambil dan tak boleh dibuang asal dimakan. Biasanya warga akan mengambil makanan yang bukan dibawanya dari rumah melainkan mengambil yang milik keluarga lain. Simbol pemberian satu sama lain. Inilah momen yang paling disukai oleh anak anak. Terkadang terkesan berebut namun di sinilah yang menjadi kenangan tak terlupakan bagi mereka. Harapan agar tahun depan pun masih bisa melanjutkan acara serupa didaraskan oleh tetua kampung. Selain itu memohon keselamatan warga kampung sekaligus hasil pertanian yang merupakan sumber utama mata pencaharian masyarakat Dusun Sumbersari.
[Henk Widi]

Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: