KAMIS, 13 OKTOBER 2016

CATATAN JURNALIS --- Pemanfaatan tekhnologi mutahkir dalam bidang pertanian mulai diterapkan di sejumlah wilayah di Provinsi Lampung diantaranya dari proses pengolahan lahan pertanian menggunakan traktor, proses memompa air dengan mesin pompa tenaga bahan bakar minyak (BBM), proses penananaman menggunakan mesin penanam padi (rice transplanter) hingga proses pemanenan menggunakan mesin pemanen padi (combine harvester). 


Kehadiran alat alat pertanian tersebut merupakan upaya instansi terkait untuk meningkatkan produktifitas pertanian padi sawah dengan lebih efesien baik dalam segi penggunaan modal serta efesiensi waktu. Bagi para pemodal besar yang memiliki lahan pertanian cukup luas, kehadiran alat alat pertanian tersebut merupakan sebuah peluang untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Meski demikian kehadiran alat alat tersebut memiliki dampak sosial yang besar bagi para petani kecil bahkan petani yang notabene tidak memiliki lahan pertanian.

Keberadaan alat pembajak sawah menggunakan tekhnologi traktor tangan (hand tracktor) lambat laun menggeser usaha para pemilik ternak sapi dan kerbau yang biasa mengolah lahan pertanian menggunakan bajak tenaga hewan. Kehadiran para pembajak lahan pertanian dengan menggunakan hewan tersebut kini hanya digunakan oleh sebagian petani bahkan hanya digunakan oleh pemilik ternak sekaligus pemilik sawah atau bahkan nyaris tak digunakan sama sekali. Imbasnya penghasilan pemilik hewan sekaligus penyedia jasa bajak sawah tersebut berkurang bahkan tidak ada sama sekali.

Proses selanjutnya masa tanam, kehadiran mesin penanam padi yang lebih canggih bahkan telah meliburkan dan membuat menganggur para kaum wanita yang menggantungkan hidupnya sebagai buruh tanam. Di Kecamatan Palas, Kecamatan Sragi, Kecamatan Kalianda, Kecamatan Candipuro, Kecamatan Sidomulyo, Kecamatan Katibung dan beberapa kecamatan lain bantuan alat alat tersebut mulai digunakan sejumlah kelompok tani. Akibatnya ratusan buruh tani menganggur karena tenaga manual mereka tak digunakan. Sebuah ironi dari kehadiran tekhnologi canggih pertanian yang secara langsung mempengaruhi para petani kecil.

Khusus untuk penggunaan jasa membajak sawah menggunakan hewan sapi atau kerbau petani bisa mengupah pemilik dengan Rp300-Rp400ribu perberapa petak dengan dikerjakan selama tiga hingga empat hari. Sementara penggunaan alat traktor tangan petani bisa menggunakan waktu hanya sekitar 2 hingga tiga hari dengan upah relatif sama sekitar Rp350-Rp450ribu. Selisih yang dianggap lebih efesien dengan menggunakan traktor mesin. Setelah itu upah untuk para penanam padi sawah menggunakan tenaga buruh tanam dengan upah rata rata Rp40ribu perorang menggunakan sekitar 5 orang tenaga kerja pemilik bisa mengeluarkan uang Rp200ribu sekali masa tanam belum termasuk menyiapkan konsumsi dan hal hal lain yang dikalkulasikan biaya operasional hingga masa tanam bisa mencapai Rp1juta.

Jumlah tersebut masih bisa dikurangi dengan adanya sistem "bawon" atau bagi hasil dengan penanam padi yang akan memperoleh bagian gabah saat masa panen. Sistem tersebut kini sudah mulai tidak diterapkan akibat adanya sistem tanam dengan mesin sehingga tenaga manusia sudah jarang digunakan. Proses selanjutnya pemanenan padi menggunakan alat pemetik padi masih memerlukan biaya Rp2,5juta perhektar sehingga rata rata petani mengeluarkan uang untuk biaya operasional dari masa pengolahan, perawatan hingga masa panen bisa menghabiskan uang sekitar Rp5juta.

Tergantikannya tenaga buruh tani yang bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp200ribu selama lima hari kini sudah tak bisa dilakukan. Selain itu sistem bagi hasil yang memungkinkan petani bisa memperoleh gabah sekaligus beras dari pemilik sawah kini hanya tinggal sebuah sejarah. Hal tersebut terjadi akibat penggunaan mesin pemanen padi yang dengan cara berjalan diantara batang padi sudah mampu menampung padi ke dalam karung karung. Kaum wanita yang menjadi buruh tanam, buruh panen pun kini hanya bisa menyaksikan mesin mesin seperti robot menggantikan fungsi kerja tangan mereka.

Pemilik lahan sawah dengan modal besar pun menjual gabah paska panen ke luar daerah sehingga tidak menyisakan gabah gabah untuk digiling di mesin penggilingan padi yang ada di daerah. Sejumlah pemilik penggilingan padi lokal bahkan mencatat meski hasil panen di sejumlah sawah milik petani di Lampung Selatan cukup melimpah namun hasil panen tersebut hanya 'mampir" sebentar di tanggul sawah dan berpindah ke luar pulau dan luar Lampung untuk diolah ke sejumlah provinsi lain diantaranya Banten, Jawa Barat dan Jakarta. Sejumlah pemilik penggilingan padi bahkan hanya melakukan pembelian gabah dari petani yang memiliki lahan sawah cukup minim untuk digunakan sebagai stok beras yang mereka miliki.


Lapangan Kerja Alternatif Belum Diantisipasi

Kehadiran tekhnologi canggih pertanian tersebut secara sosial menggeser keberadaan tenaga kerja manusia di beberapa bagian diantaranya tenaga kerja pengolah tanah, tenaga kerja penanam padi, tenaga kerja pemanen. Tenaga kerja yang tak terpakai tersebut akhirnya menimbulkan persoalan baru dengan munculnya pengangguran yang secara faktual ada di sejumlah desa. Meski demikian belum ada langkah antisipasi jauh jauh hari dan juga alternatif usaha yang bisa dilakukan oleh para pemangku kepentingan yang ada di daerah. Bahkan setiap daerah berlomba lomba mendatangkan mesin pemanen padi dengan alasan mempercepat pemananen dan kehadiran alat alat pemanen padi tersebut menjadi sumber penghasilan baru bagi setiap desa yang menerapkan sistem pajak bagi setiap mesin pemanen padi dengan Rp2,5juta permesin untuk jangka waktu tertentu bagi pemilik.

Lapangan kerja yang tersisa hanyalah bagi kaum laki laki dengan menjadi buruh angkut dan buruh ojek mengangkut gabah gabah yang sudah dipanen menuju ke lokasi yang bisa diangkut lebih mudah menggunakan kendaraan roda empat. Upah sebesar Rp10ribu perkarung menjadi sumber pendapatan kaum laki laki pemilik motor sementara para kaum perempuan sebagian hanya bisa menjadi "penyikru" atau mencari rontokan rontokan padi atau mencari sisa dari tanaman padi yang berjatuhan. Tak ada gabah atau beras yang didapat dan tak ada pengguna tenaga kerja untuk buruh tanam atau menyiangi rumput karena sebagian menggunakan pestisida.

Sebagian kaum perempuan yang kreatif menciptakan lapangan usaha baru dengan membuat produk olahan hasil perkebunan diantaranya keripik pisang, keripik singkong, serta hasil perkebunan lain akibat tenaga mereka tak diperlukan lagi dalam bidang pertanian sebagai buruh. Kepedulian dari berbagai pihak untuk pelatihan atau pendampingan bagi kaum perempuan yang secara tak langsung terimbas akan kehadiran mesin mesin pertanian modern tersebut hingga kini masih merupakan sebuah harapan yang didambakan kaum perempuan petani di pedesaan. Siap tidak siap kaum perempuan dan petani kecil merubah pola penggunaan tenaga kerja manusia menjadi tenaga mesin. Sumber pendapatan langsung dari lahan pertanian makin berkurang dan bergeser. Sebuah dampak langsung secara sosial yang dirasakan kaum petani kecil meski peningkatan hasil pertanian digadang gadang bisa ditingkatkan dengan adanya penggunaan alat alat pertanian canggih. Petani petani kecil yang semakin tersingkir lengkap dengan tenaga kerja yang tak terpakai mau tak mau harus terus mencari inovasi sumber penghasilan baru dan tak kembali menjadi buruh tani di lahan pertanian.
[Henk Widi]

Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: