SENIN, 10 OKTOBER 2016

YOGYAKARTA --- Teknik anyam tanah dengan bahan tanah keramik (stone ware), kini semakin menjadi perhatian banyak kalangan. Teknik anyam yang pertama kali diperkenalkan oleh seorang seniman di Desa Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Asep Maulana Hakim, kini juga menarik para pelajar yang ingin mendapatkan referensi baru tentang seni patung, keramik, gerabah atau kriya.


Sejak tahun 2007, Asep mulai menggagas teknik membuat benda seni anyaman, namun dengan bahan tanah keramik. Berbagai benda yang biasa dibuat dengan dianyam dengan bahan bambu atau rotan, oleh Asep dibuat dengan bahan tanah keramik. Hasilnya adalah sebuah gender baru seni keramik yang disebutnya dengan anyam tanah.

Asep telah membuat beragam produk seni yang biasanya dibuat dengan bahan bambu, kayu atau rotan dengan bahan tanah keramik. Tidak hanya benda-benda kecil seperti keranjang atau patung kecil, namun juga meja kursi yang umumnya dibuat dengan bahan kayu, bambu atau rotan juga dibuatnya dengan bahan tanah keramik.

Ditemui di sanggarnya, Senin (10/10/2016), Asep mengatakan, jika pada awalnya ia hanya ingin membuka paradigma baru dalam seni patung berbahan tanah. Di sisi lain, Asep juga terilhami oleh kakeknya yang merupakan tukang anyam. Asep kemudian mencoba membuat barang-barang anyaman dengan bahan tanah keramik.

Asep menjelaskan, tidak ada hal baru dari teknik anyam tanah itu. Semua teknik dasar membuat patung seperti pitching atau pijat, coil atau pilin dan memutar digunakan dalam membuat benda-benda seni dengan teknik anyam tanah.

"Salah satu kesulitan hanya pada ketekunan dan kecermatan dalam memilin tanah yang akan dianyam karena ukurannya yang harus relatif sama dan kuat," ujarnya.

Kini, beragam hasil karya seni Asep selalu habis terjual dalam setiap pameran yang diadakan di Jakarta dan Yogyakarta. Namun, Asep membuat berbagai benda seni dengan bahan tanah keramik yang didatangkan dari Pacitan, Jawa Timur, secara tunggal. Artinya, produk anyam tanahnya dibuat sebagai benda seni, tidak dibuat massal sehingga harganya terhitung mahal. Paling murah, hasil karya anyam tanah Asep dihargai Rp. 5 Juta.

Keunikan teknik anyam tanah ini juga membuat beberapa pelajar dari berbagaumi sekolah untuk datang dan belajar teknik anyam tanah. Salah-satunya Sekolah Menengah Atas Anglo Chinese School (ACS) di Jakarta Timur.

Guru Seni SMA ACS, Andika Wicaksana mengatakan, ia sengaja mengajak siswa-siswinya ke sanggar anyam tanah, untuk mendapatkan perspektif baru di bidang seni patung berbahan tanah keramik.

"Kami sengaja datang ke sini untuk mencari referensi baru dari seniman-seniman lokal yang memiliki keunikan dan karakteristik karya yang lain dari biasanya," ujar Andika.


Selama dua hari ke depan, siswa-siswi SMA ACS akan belajar memilin tanah keramik dan mempelajari teknik-teknik dasar. Asep mengatakan, para siswa tersebut diberi pelajaran untuk membuat mangkok dengan bahan tanah keramik, dengan teknik pijat.

"Tekni pijat ini adalah yang paling dasar. Dari teknik pijat itu nanti bisa diketahui bakat jari tangan seniman dalam membentuk atau menghasilkan sebuah benda seni yang berkualitas,"pungkasnya. 
[Koko Triarko] 

Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: