SELASA, 4 OKTOBER 2016

JAKARTA --- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengembangkan penyelidikan dan mendalami kasus perkara dugaan suap dalam penyalahgunaan perizinan usaha pertambangan di Provinsi Sulawesi Tenggara yang melibatkan Nur Alam. Meskipun telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, namun Nur Alam belum ditahan, hingga detik ini dirinya masih tetap menjabat sebagai Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara.


Hari ini KPK kembali mengagendakan melakukan pemeriksaan sekaligus meminta keterangan Ahmad Nursiwan, Direktur PT. Anugrah Harisma Barakah (AHM) dan Gino Velentino Budiman Riswantyo yang berasal dari kalangan swasta. Keduanya dimintai keterangan sebagai saksi

"Hari ini penyidik KPK mengagendakan melakukan pemeriksaan sekaligus meminta keterangan Ahmad Nursiwan, Direktur Utama PT. Anugrah Harisma Barakah dan Gino Velentino Budiman Riswantyo dari pihak swasta dalam kasus perkara dugaan suap yang melibatkan Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara Nur Alam, mereka berdua akan bersaksi untuk tersangka Nur Alam" demikian dikatakan Yuyuk Andriati Iskak, PLH Kabiro Humas KPK di Gedung KPK Jakarta, Selasa siang (4/10/2016).

Yuyuk Andriati mengatakan "KPK sebelumnya telah menetapkan Nur Alam, Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai tersangka karena Nur Alam telah menerbitkan Surat Keputusan (SK) yang menyalahi aturan izin usaha pertambangan, antara lain SK Persetujuan Pencadangan Wilayah Pertambangan, SK Persetujuan Izin Usaha Pertambangan, SK Persetujuan Peningkatan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi dan SK IUP Operasi Produksi kepada PT. Anugrah Harisma Barakah" katanya kepada wartawan di Gedung KPK.

Menurut penyelidikan KPK, hasil pertambangan milik PT. Billy Indonesia tersebut belakangan diketahui seluruhnya dibeli oleh Richcorp International, sebuah perusahaan asing. KPK menduga bahwa perusahaan tambang tersebut telah mengirimkan uang secara bertahap kepada Nur Alam dengan jumlah total sebesar 4,5 juta Dolar Amerika (USD) atau sekitar 58,5 miliar Rupiah dengan kurs Rp. 13.000 per 1 USD.
[Eko Sulestyono]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: