SABTU, 8 OKTOBER 2016

BAJAWA --- Tim Pembela Demokrasi indoensia (TPDI) wilayah provinsi NTT dalam waktu dekat akan melakukan somasi kepada Kejaksaan Negeri Bajawa kabupaten Ngada.Tindakan ini dilakukan  agar Kajari Bajawa segera mengumumkan kepada publik perihal kepastian hukum penanganan Kasus Malasera,.


Bahkan sekiranya proses penyidikan kasus itu harus dihentikan melalui SP3 oleh Kajari Bajawa maka supaya adil dan fair haruslah diumumkan kepada publik tentang dasar dan alasan hukum dari SP3 tersebut tanpa adanya uang suap atau embel-embel pemberian melanggar hukum lainnya dari para tersangka kepada Kajari Bajawa.

Demikian disampaikan Kordinator TPDI NTT Meridian dewanta Dado,SH kepada Cendana News,Sabtu (8/10/2016).

Dikatakan Meridian, bila Kasus Malasera harus dihentikan proses hukumnya lewat cara-cara mafia maka itu sama saja dengan menambah subur praktek mafia yang merugikan masyarakat dalam suatu proyek pembangunan di Kabupaten Nagekeo.

“Supaya tidak menimbulkan iri hati dan diskriminasi hukum terhadap kasus-kasus korupsi lainnya yang juga sedang ditangani oleh Kajari Bajawa maka bila ada SP3 tentu saja Kajari Bajawa harus membuka peluang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk menguji perihal sah atau tidaknya SP3 ini,” ujar Meridian.


Pelepasan hak atas tanah aset pemkab Nagekeo kepada PT.Prima Indo Megah sebagai pembangunan rumah murah di Malasera,kelurahan Danga,kecamatan Aesesa, kabupaten Nagekeo lebih dikenal sebagai Kasus Malasera sebut TPDI NTT diduga merupakan tindak pidana korupsi.

Pada bulan Januari 2015 kepala Kejaksaan Negeri Bajawa telah menetapkan 7 orang tersangka kasus tersebut yaitu Yohanes Samping Aoh, Yulius Lawotan, Wake Petrus, Fransiskus Rogha, Ahmad Rangga Monika Ernestina Imaculata Saquera dan Firdaus Adi Kisworo.

Selanjutnya pada bulan Mei 2015 beber TPDI NTT,salah satu tersangka atas nama Firdaus Adi Kisworo selaku Direktur Utama PT.Prima Indo Megah telah mengajukan permohonan praperadilan melalui Pengadilan Negeri Bajawa terkait penetapan tersangka oleh Kajari Bajawa tersebut.

Pengadilan Negeri Bajawa pada tanggal 1 Juni 2015 mengabulkan permohonan praperadilan dari tersangka Firdaus Adi Kisworo itu dan pada pokoknya memutuskan bahwa penetapan tersangka oleh Kajari Bajawa terhadap adalah tidak sah dan tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat.

“Putusan pengadilan juga menyatakan bahwa proses penyidikan oleh Kajari Bajawa dalam kasus Malasera adalah tidak sah dan tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat,” tutur Meridian.

Menyikapi putusan praperadilan dari pengadilan itu maka Kajari Bajawa pada tanggal 16 Juni 2015 telah menerbitkan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) baru sebagai dasar untuk kembali mentersangkakan Firdaus Adi Kisworo, bahkan dengan lantang dan tegas Kajari Bajawa selalu berdalih akan tetap melanjutkan proses hukum Kasus Malasera serta akan segera melakukan penahanan terhadap para tersangkanya.

Walaupun Kajari Bajawa mati-matian ngotot akan segera membawa Kasus Malasera ke Pengadilan Tipikor beber TPDI,namun ternyata sikap yang tampak terlihat tegas itu rupanya diduga kuat hanya merupakan taktik atau siasat busuk dari Kajari Bajawa untuk merontokkan mental para tersangka

“Dengan begitu diharapkan para tersangka yang merasa panik atau ketakutan akan mencari berbagai upaya guna menemui dan memberi upeti atau uang suap kepada Kajari Bajawa sebagai syarat mutlak agar kasus ini dihentikan proses hukumnya,” tegas Meridian.

Sebagai bukti adanya dugaan siasat busuk dari Kajari Bajawa untuk mempertebal pundi-pundi uangnya melalui Kasus Malasera ungkap Meridian,yakni tetap dibiarkannya kasus ini  proses hukumnya berjalan ditempat .

Sampai detik ini lanjutnya,kasusnya tidak pernah naik ke tahapan penuntutan dan persidangan di Pengadilan Tipikor padahal semestinya Kajari Bajawa demi hukum dan tanpa syarat apapun memastikan penuntasan kasus itu apakah dilanjutkan ataukah dihentikan proses hukumny
a melalui SP3.

“Kajari Bajawa jangan cuma pura-pura gertak tapi kepingin dapat upeti atau uang suap dari para tersangkanya,” pungkasnya.

Jurnalis :Ebed De Rosary / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Ebed De Rosary
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: