RABU, 12 OKTOBER 2016

JAYAPURA --- Sebanyak dua ton lebih kayu Masohi atau Massoia dari Papua New Guinea (PNG) masuk illegal ke wilayah Indonesia, berhasildigagalkan aparat TNI AD pengamanan perbatasan, tepatnya di lokasi logpond (tumpukan kayu) Skouw, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura.


“Setelah saya mendapatkan informasi dari masyarakat, dalam sehari saya melakukan pemantauan. Dan saat anggota saya berpatroli Selasa (11/10/2016) malam, disekitaran lokasi yang dulunya sebagai tempat penumpukan kayu itu, melihat 3 speed boad daari arah PNG masuk ke wilayah RI sandar di logpond,” kata Komandan Satgas Pamtas Yonif/TS, Letkol Inf Kohir, Rabu (12/10/2016).

Saat dilakukan penangkapan, lanjut Kohir, kulit kayu masohi tersebut sudah berada diatas truk berwarna merah dengan nomor polisi DS 9687 AG. Saat dilakukan pemeriksaan, kulit kayu tersebut telah dikemas dalam 100 sak karung.


“Kami berhasil menggagalkan penyelundupan kulit kayu Masohi yang sudah dikemas dalam 100 sak karung yang beratnya bermacam-macam antara 20 sampai 30 kilogram, secara keseluruhan ditotal sekitar 2.500 kg,” tuturnya.

Kulit kayu Masohi tersebut berasal dari PNG dan dibawa melalui speedboad sebanyak 3 Speedboad dan 6 orang warga Negara asing PNG dari Wiwek menuju pantai logpond Skouw, Muara Tami. “Kulit kayu Masohi ini dibawa dari PNG tanpa dokumen resmi dari instansi yang berwenang dan pemilik barang tersebut bernama Arman (33tahun) beralamat di jalan Dunlop Sentan, Kabupaten Jayapura,” ujarnya.

Masih kata Kohir, pihaknya telah menyerahkan barang bukti kayu Mashoi dan 6 orang WNA PNG ke pihak yang terkait. “Kami sudah serahkan barang bukti kayu itu ke pihak kepolisian, imigrasi dan bea cukai. Kami sampai saat ini terus gencar untuk mengamankan wilayah penugasan kami, salah satunya masuknya barang-barang illegal ke NKRI,” katanya.


Sekedar diketahui kayu mashoi di Papua, lebih dikenal dengan nama aikor atau aikori ini satu jenis dengan pohon kayu manis yang mengandalkan aroma wangi dari kandungan minyak atsiri kayu yang berasal dari pohon habitus tersebut.

Jurnalis : Indrayadi Hatta / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Indrayadi Hatta


Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: